Hal ini Presiden Direktur PT Pertamina EP Syamsu Alam saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (21/11/2012).
"Tambah parah lagi, padahal sudah terjadi ledakan di penampungan minyak curian yang menewaskan beberapa orang," kata Syamsu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun walaupun minyaknya dicuri, Pertamina EP tidak bisa berbuat banyak. "Kita tidak mungkin dong menindak sendiri, kita cuma bisa serahkan semuanya terkait pengamanan pengiriman minyak kepada pihak keamanan seperti polisi dan sekarang ada komitmen dari TNI juga ikut serta mengamankan," katanya.
Apalagi pipa minyak yang sepanjang 260 km dari Tempino-Plaju sangat panjang sekali, dari hitungan Pertamina EP, kata Syamsu, kehilangan minyak paling besar (losses) terjadi pada Juli lalu sebesar 3.000 barel per hari.
"Kita losses paling tinggi terjadi pada Juli kemarin sehari mencapai 3.000 barel lebih, atau sebulan kita kehilangan 60.000 barel lebih (jika harga minyak US$ 100 per barel dikali kurs Rp 9.000 maka kerugian dalam sebulan bisa mencapai Rp 54 miliar)," cetus Syamsu.
(rrd/dnl)











































