Dirjen Peternakan Kementan Syukur Iwantoro menuturkan salah satu alasan yang paling masuk akal adalah karena harga sapi bakalan yang mahal dari Australia.
Menurut catatan Kementerian Pertanian jumlah proporsi antara permintaan dan suplai daging sapi di Jabodetabek masih mengalami surplus. Posisi suplai dan demand daging sapi di wilayah Jabodetabek mengalami surplus sebanyak 671 ton hingga per Desember 2012 nanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syukur menambahkan harga itu harus ditambah biaya bea masuk sebesar 5% dan biaya karantina ketika dibawa ke Indonesia. Syukur menghitung harga setelah melewati bea masuk dan biaya karantina mencapai Rp 32 ribu/Kg bobot hidup.
"Sudah mencapai Rp 32 ribu/Kg bobot hidup. Kemudian dijual ke RPH dengan harga Rp 32-33 ribu/Kg. Ini berarti harga daging sapi di pasaran mencapai Rp 85-90 ribu/Kg," katanya.
Selain itu Syukur memaparkan mengapa daging sapi di Jakarta cendrung mengalami kelangkaan. "Itulah dugaan kami karena harga tinggi dan menjadi barometer. Ini bergerak ke daerah-daerah karena tingginya harga dari Australia. Kalau kita mengandalkan impor harga tentu akan tinggi," jelasnya.
(wij/hen)











































