Wamen ESDM: BBM Subsidi Yang Dicuri Banyak, Tapi Tak Ada Laporannya

Wamen ESDM: BBM Subsidi Yang Dicuri Banyak, Tapi Tak Ada Laporannya

- detikFinance
Kamis, 29 Nov 2012 18:44 WIB
Wamen ESDM: BBM Subsidi Yang Dicuri Banyak, Tapi Tak Ada Laporannya
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Salah satu penyebab jebolnya jatah atau kuota BBM subsidi untuk kedua kalinya di tahun ini adalah banyaknya BBM subsidi yang dicuri. Selain itu penghematan yang didapat dari program pembatasan BBM subsidi untuk kendaraan pemerintah, perkebunan, dan pertambangan sangat kecil.

"Jebolnya kuota BBM subsidi ini salah satunya juga dikarenakan pencurian dan pembelokan distribusi BBM subsidi," kata Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini ketika ditemui di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (29/11/2012).

Dikatakan Rudi, jumlah BBM subsidi yang dicuri dan dibelokan ke tempat lain dan tidak sampai ke SPBU jumlahnya sangat banyak, namun tidak bisa diprediksi jumlahnya berapa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pasti banyaklah jumlahnya (yang dicuri). Cuma kan kita tidak ada laporannya. Jadi kalau ditanya berapa jumlahnya ya tidak ada hitungannya," ucap Rudi.

Pencurian dan penyelewengan BBM subsidi dari depot yang tidak sampai ke SPBU ini, ungkap Rudi, banyak dijual atau dilarikan ke pertambangan dan perkebunan. Ada pula yang ditaruh di jeriken-jeriken secara eceran.

"Kan yang dari depot-depot harusnya ke SPBU, tapi beloknya ke pertambangan, belok lagi ke perkebunan, ditaruh di jeriken pertamini-pertamini (eceran). Begitu, jadi masalah di lapangan seperti itu tidak bisa ditangani tangan-tangan BPH Migas yang hanya sekian orang," ujar Rudi.

Sementara program penghematan yakni pelarangan konsumsi BBM subsidi untuk kendaraan pemerintah, BUMN, Polri dan TNI di Jawa-Bali, serta kendaraan pertambangan dan perkebunan hasilnya tidak signifkan.

"Program itu bukan tidak efektif, dulu kan maunya dari 44 juta KL (kiloliter) kurangi jadi 45 juta KL, kan kurangnya 1,2 juta KL. Tapi itu tidak terjadi, mungkin jadinya kurang. Saya nggak tahu karena nggak bisa diprediksi, tapi kan ini ditambah lagi mobl kita sekarang 1,050 juta unit, lah dulu kan dihitung nggak segitu. Mobil kita hitung cuma tambah 700 ribu unit, belum lagi dtambah motor 8 juta unit," cetus Rudi.

Seperti diketahui, anggaran subsidi BBM di 2012 meningkat dari Rp 137 triliun menjadi Rp 219 triliun akibat adanya tambahan kuota BBM subsidi dari 40 juta KL menjadi 4,4 juta KL. Tapi ternyata jatah tersebut belum cukup dan pemerintah minta tambahan lagi 1,2 juta KL dengan nilai sekitar Rp 6 triliun.

Dalam APBN-P 2012 disetujui anggaran subsidi energi Rp 225 triliun, dengan rincian subsidi BBM Rp 137 triliun, subsidi listrik Rp 65 triliun, dan cadangan risiko fiskal energi Rp 23 triliun.

Sebelumnya, Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto pernah mengatakan, subsidi BBM tidak tepat lagi. Harga seliter BBM subsidi yang lebih murah dari 1 botol air mineral, sudah tidak masuk akal.

Menurut Suryo, subsidi energi (BBM dan listrik) yang mencapai hampir Rp 300 triliun dinilai terlalu besar, dan habis hanya untuk dibakar.

"Bayangkan kalau Rp 300 triliun tersebut dialihkan ke infrastruktur dan pendidikan. Banyak yang merasakan dampaknya, seperti pembangunan infrastruktur efeknya akan menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan geliat ekonomi, dan pengusaha pastinya akan memanfaatkannya juga. Bandingkan dengan subsidi BBM dan listrik saat ini, ya yang menikmati kita-kita ini (pengusaha) dan orang mampu," paparnya.

Laporan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) juga mengatakan, seringkali terjadi penyelundupan BBM subsidi yang jumlahnya lumayan. Terakhir, ada sekitar 1.700 KL BBM subsidi diduga yang diselundupkan di Kalimantan. Bahkan ada juga oknum aparat keamanan yang juga membekingi BBM subsidi untuk diselundupkan ke industri.

Bahkan Menteri ESDM Jero Wacik mengakui, selama ini penyelundupan BBM subsidi makin banyak karena harga BBM subsidi yang terlalu murah yaitu Rp 4.500 per liter dibandingkan BBM non subsidi sekitar Rp 9.700 per liter.

Jero Wacik tak menampik adanya penyelundupan BBM subsidi. Bahkan menurut Jero, aksi penyelundupan BBM subsidi makin banyak walaupun sudah banyak yang tertangkap. Hal ini salah satunya disebabkan oleh makin lebarnya perbedaan harga antara BBM subsidi dengan BBM non subsidi.

"Kita sudah tangkap mereka, tapi yang menyelundup makin banyak lagi, semakin banyak akal-akalan mereka," kata Jero.

(rrd/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads