Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir menyatakan, tidak benar impor BBM yang dilakukan Pertamina adalah pertamax ron 92. Namun Ali mengaku, impor BBM yang dilakukan adalah jenis premium ron 90 alias premix.
"Kok kita impor pertamax, ya nggak lah," ungkapnya saat ditemui selepas acara Diskusi Forum Wartawan Industri di Kantor Kementerian Perindustrian, Jumat (14/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita beli di luar itu sudah tidak ada premium 88 itu, paling tidak itu ron 90. Pertamax kan ron 92," lanjutnya.
Namun Ali tidak menjelaskan, apakah bensin ron 90 yang diimpor diturunkan oktannya menjadi ron 88 baru setelah itu didistribusikan ke SPBU.
Sebelumnya, Wakil Kepala BPH Migas Fahmi Harsandono menyatakan, sebagian orang yang mengisi BBM khususnya premium di SPBU terkadang isinya merupakan bensin jenis pertamax.
"Banyak yang tidak tahu, orang isi Premium di SPBU kadang dapatnya Pertamax," kata Fahmi.
Menurut Fahmi, ini karena Indonesia impor BBM jenis pertamax yang per harinya mencapai 600.000-700.000 barel per hari.
"Ya karena kita impor BBM jenis pertamax yang Ron atau oktannya 92 ke atas. Jumlahnya sekitar 600.000-700.000 barel per hari," ungkap Fahmi.
Sementara, kata Fahmi kebutuhan nasional per harinya mencapai 1,3 juta barel per hari, sementara produksi BBM di kilang milik Indonesia hanya sekitar 600.000-700.000 barel per hari.
"Artinya harus ada tambahan impor BBM sekitar 600.000-700.000 barel per hari untuk menutupi kebutuhan BBM dalam negeri 1,3 juta barel per hari," jelas Fahmi.
Namun, impor 600.000-700.000 barel per hari tersebut bukan premium, namun Pertamax yang RON-nya 92 ke atas. "Kita impornya Pertamax, karena di dunia ini tidak ada lagi yang produksi premium," ucapnya.
Namun kata Fahmi, tidak mungkin impor pertamax yang ronnya sudah di atas 92 tersebut di Indonesia diturunkan oktannya menjadi ron 88 untuk menjadi premium. "Tidak mungkin dong diturunin kualitasnya menjadi 88, selain itu buat apa, kalau diturunkan juga akan mengeluarkan cost (tambahan biaya)," tuturnya.
Akhirnya, 600.000-700.000 barel pertamax tersebut dilepas saja ke SPBU. "Makanya bisa jadi sebagian masyarakat di Indonesia yang niatnya isi premium justru yang keluar malah pertamax," cetus Fahmi.
(zul/dnl)











































