"Untuk melistriki Papua dibutuhkan hati dan kesungguhan," ungkap GM PLN Wilayah Papua & Papua Barat, Robert Sitorus di kantornya, Jalan Ahmad Yani, Jayapura, Papua, Selasa (12/2/2013).
Robert lantas memaparkan tantangannya untuk membuat Papua 'bercahaya' dialiri listrik. Pertama, area kerja seluas pulau Papua, yakni 853 ribu kilometer persegi. Namun, jumlah yang luas itu berbanding terbalik dengan penduduknya yang masih 3,5 juta orang. Artinya, satu kilometer persegi, hanya dihuni sekitar 4 orang. Dari total jumlah penduduk Pulau Papua itu, yang menjadi pelanggan PLN 'baru' sekitar 338 ribu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Papua ini wilayahnya banyak yang masih hutan. Seperti di Kabupaten Pegunungan Bintang, dari 34 kecamatan hanya ada 3 kecamatan yang bisa dilalui mobil. 31 Kecamatan lainnya harus pakai pesawat. Sementara tidak ada pesawat reguler. Kalau tidak menunggu sampai rame baru naik pesawat ya nyewa sendiri," jelas Robert.
Padahal ongkos untuk menyewa pesawat kecil sekali jalan bisa mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah. Biaya bahan bakar sangat mahal membuat harga barang melambung tinggi.
"Saya pernah di pegunungan, beli air minum 500 ml, itu seharga Rp 20 ribu," ungkap Robert menceritakan pengalamannya.
Kemudian, juga berhadapan dengan masyarakat adat yang masih tradisional. Ibarat pepatah 'Di Mana Tanah Dipijak,
Di Situ Langit Dijunjung', Robert dan timnya tak lelah memberikan pengertian kepada warga lokal akan pentingnya listrik, pembangunan pembangkit listrik, apalagi bila itu nyaris bersenggolan dengan tanah yang diklaim tanah adat.
"Seperti di Wamena. Kita bikin PLTM itu butuh upacara bakar batu dulu," Robert mencontohkan pendekatan kultural yang ditempuhnya.
Gara-gara masalah-masalah tersebut, sebanyak 16 proyek pembangkit tenaga listrik non-BBM di 24 lokasi dan 15 kabupaten pemekaran Papua gagal lelang. Rupanya, banyak investor mengkerut tak berani ikut tender lelang.
"Peserta lelangnya cuma satu. Kan tidak bisa lelang kalau pesertanya cuma satu," imbuh dia.
Sementara Deputi Manajer Korporat PLN Wilayah Papua & Papua Barat Mangatas Hutabalian, mengatakan akan melelang kembali 17 proyek itu tahun ini. Hal ini untuk mencapai target bahwa tahun ini rasio elektrifikasi di Papua mencapai 60 persen.
Biayanya, dari anggaran PLN tahun 2013 sebanyak Rp 224 miliar. Lantas bila investor memandang tak kunjung memenuhi angka keekonomisan, apa insentif yang disediakan?
"Insentifnya dengan hati nurani," jawab Mangatas.
(nwk/dru)











































