“Anggaran sebesar itu relatif cukup untuk akuisisi tahun ini,” ujar Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan, saat jumpa pers di kantornya, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Rabu (27/2/2013).
Karen menyatakan sejak tahun lalu, Pertamina telah menandatangani perjanjian jual beli (SPA) blok migas di luar negeri. Namun, satu perjanjian diantaranya, yakni, jual-beli 32% saham Petrodelta milik perusahaan Migas Amerika Serikat, Harvest Natural Resources Inc (HNR) batal diwujudkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, empat SPA blok migas lainnya masih harus menunggu persetujuan dari negara yang bersangkutan. Sayangnya, Karen masih enggan untuk menyebut blok migas di negara mana saja yang akan diakuisisi.
"Sabar, kita masih menunggu persetujuan pemerintah setempat. Mereka bisa upset (kecewa) kalau kita yang belum masuk ke sana saja, sudah bicara ke publik. Kita bukan bungkam, tapi aturannya memang tidak boleh dikatakan. Nanti mereka tidak percaya dan menganggap Pertamina ember," pungkasnya.
Namun, berdasarkan pemberitaan belakangan ini Pertamina berambisi mengakuisisi blok minyak yang berada di Irak. Namun, hingga saat ini pemerintah Irak belum memberikan persetujuannya.
Ketika Deputi Perdana Menteri Irak Hussain Al-Shahristani berkunjung ke Indonesia, Juni lalu, menyebut akan mendahulukan Pertamina untuk mendapatkan blok Migas di negaranya. Besaran jatah akuisisi yang bisa diambil Pertamina berkisar antara 10-25%.
(nia/hen)










































