"Delegasi China melalui CNOOC sudah datang ke pemerintah dan setuju adanya renegosiasi kontrak. Akhir bulan ini Tim Renegosiasi Fujian sudah bertolak ke China untuk melakukan renegosiasi," ujar Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini, di Kantor Pusat SKK Migas, Wisma Mulia, Jakarta, Senin (13/5/2013).
Diungkapkan Rudi, nantinya diharapkan ada perubahan harga jual ekspor LNG Indonesia ke China yang dulunya sebesar US$ 3,45 per MMBTU. "Minimal harganya nanti US$ 7 per BBMTU dan maksimalnya sekitar US$ 11 per MMBTU," ungkap Rudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dulu harga minyak hanya sekitar US$ 25 per barel sehingga berdasarkan caping harga gas sekitar US$ 2 per MMBTU, namun berhasil ditingkatkan menjadi US$ 3,45 per MMBTU. Namun dengan harga minyak saat ini US$ 100 per barel, artinya harga internasional LNG sekitar US$ 15-US$ 16 per MMBTU. Namun karena ini renegosiasi tentu berat bagi mereka, maka kita tentukan saja berdasarkan harga LNG dalam negeri yakni mencapai US$ 11 per MMBTU," papar Rudi.
Sebelumnya, Menteri ESDM Jero Wacik mengungkapkan, renegosiasi harga gas ekspor Indonesia ke Fujian, China harus selesai tahun ini. Alasannya harga gas yang dijual ke China sudah tidak masuk akal karena terlalu murah.
"Tahun ini ditergetkan selesai renegosiasi gas ekspor ke Fujian, dan tahun ini harus saya ke China dan teken harga baru," tegas Jero pekan lalu.
Dikatakan Jero, saat ini harga gas ekspor Indonesia ke China sangatlah murah. Kenyataanya harga gas di internasional sudah di atas harga kontrak ke China.
"Harga gas ke Fujian China hanya US$ 3,45 per MMBTU, sementara harga gas ekspor Indonesia ke luar negeri di atas US$ 18 per MMBTU sedangkan harga gas domestik saja sudah US$ 10 per MMBTU, jadi sudah tidak masuk akal," jelas Jero.
(rrd/dnl)











































