Tiap Hari, RI Impor 400 Ribu Barel BBM dari Singapura & Malaysia

- detikFinance
Kamis, 16 Mei 2013 18:03 WIB
Jakarta - Kebutuhan dan ketergantungan masyarakat di Indonesia terhadap BBM sangat tinggi, beban subsidi tambah berat. Pemerintah prihatin terhadap ketergantungan tersebut.

"Saya curhat soal problem negara kita. Kita bisa menyampaikan apa sih tugas jadi warga negara membantu pemerintah untuk mengurangi subsidi sehingga kita bisa bangun infrastruktur. Ketergantungan BBM kita sangat besar," kata Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo saat membuka stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Kamis (16/5/2013).

Menurut Susilo, tiap hari, jumlah kebutuhan BBM di Indonesia mencapai 1,4 juta barel. Sedangkan produksi dalam negeri hanya 850 ribu barel.

Dari produksi minyak 850 ribu barel per hari ini, yang bisa diolah menjadi BBM di dalam negeri hanya 650 ribu barel per hari. Sehingga harus dilakukan impor 750 ribu barel per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Sebanyak 350 ribu barel yang diimpor dalam bentuk crude (minyak mentah), dan 400 ribu barel kita impor dalam bentuk BBM dari Malaysia dan Singapura," imbuhnya.

Susilo mengatakan, ada beberapa langkah yang akan dilakukan untuk meminimalisir penggunaan BBM. Cara itu adalah mengurangi subsidi per liter dan mengurangi ketergantungan BBM. Program konversi BBM ke BBG adalah langkah yang akan dilakukan pemerintah.

"Salah satu cara adalah konversi dari BBM ke BBG, kita punya target untuk membangun 40-50 SPBG sampai akhir tahun ini di seluruh Jabodetabek. Selain itu Rp 450 miliar kita kasih anggaran kepada peertamina untuk bangun pipa. Supaya masyarakat yakin kita sediakan gasnya. Gasnya ada. Kita sudah minta SKK Migas dan PGN untuk menyelesaikan perjanjian jual beli gas. Sehingga awal tahun 2014 kampanyenya masif. Sehingga masyarakat tidak ragu-ragu untuk beralih ke gas," jelasnya.

(wij/dnl)