Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana mengungkapkan, dirinya tidak kuat bicara dan menahan haru bahkan hampir menangis saat masyarakat adat di Lampung setujui proyek PLTP Rajabasa.
"Saya tadi tidak kuat bicara, lidah saya kelu, terharu sekali, hampir menangis mendengar dan menyaksikan masyarakat adat di Lampung setujui proyek panas bumi di Rajabasa (Lampung)," ucap Rida ketika ditemui di Kantor Kementerian Kehutanan usai bertemu dengan para tokoh masyarakat Rajabasa, Jumat (21/6/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak 2008 sampai 2013 belum juga dapat izin, padahal semuanya sudah disiapkan mulai dari peralatan, lahan, sudah buat jalan total sepanjang 50 hektar, baru hari ini masyarakat adat disana sebagian besar setuju," jelasnya.
Ini membuatnya tidak bisa bicara pada saat masyarakat adat menyetujui proyek PLTP tersebut. Kata Rida, sejak 2003 hingga sekarang tidak ada satupun sumur panas bumi yang berhasil di eksplorasi karena berbagai kendala.
"Minyak kita sudah turun, cadangan kita tinggal sedikit, subsidi BBM besar sekali, ada energi baru dan terbarukan sangat menolong negara ini, tapi bayangkan sejak 2003 sampai saat ini tidak ada satu pun sumur panas bumi yang bisa dibor karena banyak kendala terutama dari izin," ungkapnya.
Harapan dia, dengan disetujuinya proyek PLTP Rajabasa 2 x 110 MW oleh masyarakat adat di Rajabasa-Lampung, Kementerian Kehutanan bisa segera mengeluarkan izin penggunaan hutan.
"Kalau hari ini diberi izin Kehutanan, Desember 2013 sudah bisa ngebor sumur," tandasnya.
(rrd/dnl)











































