"Sangat ironis. Indonesia merupakan negara dengan cadangan batubara terbesar kelima di dunia, tapi malah bangga menjadi negara pengekspor batubara terbesar," kata anggota (DEN) Dewan Energi Nasional Tumiran Meng, di seminar 'Green Energy Technology', di University Club (UC) Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (6/12/2013)
Agar kebijakan energi nasional bisa lebih cerdas di masa mendatang, lanjut dia, DEN sedang menyusun KEN (Kebijakan Energi Nasional) sebagai acuan pemanfaatan sumberdaya energi di daerah-daerah. Pemanfaatan sumber energi di daerah harus diselaraskan dengan perencanaan nasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia belum maksimal memanfaatkan energi baru atau terbarukan. Indonesia masih mengandalkan pada sumber bahan bakar energi dari fosil. Padahal energi fosil diperkirakan 25-50 tahun ke depan akan habis.
"Kebijakan energi nasional saat ini belum mampu mendorong percepatan kemandirian dalam ketahanan energi. Hal itu dapat dilihat dari lemahnya komitmen pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan energi baru dan terbarukan," katanya.
Menurut dia pemanfaatan enegri surya, energi angin, air dan biomassa sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Saat ini dibutuhkan perombakan kebijakan energi lewat komitmen para pemimpin bangsa ini di masa mendatang.
"Tanpa itu, kita akan selalu menjadi pasar dan negara lain yang mengambil keuntungan dari sumberdaya alam yang kita miliki," kata guru besar teknik elektro UGM itu.
Dia mengatakan sumber energi fosil suatu saat akan habis dan tidak bisa digunakan lagi. Seharusnya Indonesia tidak lagi dijadikan sebagai komoditi. Sumber energi tersebut seharusnya perlakukan sebagai modal untuk pengembangan industri, seperti yang sudah dilakukan China.
"Mereka memiliki cadangan batubara yang lebih besar tapi sebagian besar dimanfaatkan sendiri guna mengembangkan industri di dalam negeri mereka," kata Tumiran.
(bgk/ang)











































