Tubuh terguncang-guncang ketika perahu bermesin 40 PK itu meniti gelombang di perairan utara Papua. Rasanya tak berani melepaskan pegangan di bibir lambung kapal karena tempat duduk kami hanya selembar papan yang diletakkan begitu saja melintang di atas perahu.
Rasa khawatir terlempar ke laut membuat perjalanan satu jam dari Desa Tabla Nusu di Distrik Depapre ke Desa Demta di Distrik Demta terasa menegangkan. Maklum gelombang sesekali terlihat lebih dari satu meter tingginya.
Tapi nelayan yang perahunya disewa oleh WWF Indonesia itu ternyata jagoan meniti gelombang. Pelan-pelan, menjelang akhir perjalanan, pegangan di bibir perahu pun mengendur. Sekitar pukul 09.00 WIT perahu kami bersandar di bibir pantai Demta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βAda informasi apa? Kedatangan kalian membikin saya bertanya-tanya, maklumlah sedikit sekali informasi yang sampai ke sini,β tutur Charles Wapumilena, pria 50 tahunan, yang menyambut kedatangan rombongan wartawan dan WWF itu.
Komunitas Demta adalah satu dari banyak komunitas di Papua yang belum merasakan listrik dengan sempurna. Mereka mengandalkan satu mesin pembangkit listrik desa (Lisdes) yang hanya bisa memasok listrik mulai pukul 18.00-06.00 WIT.
Padahal, lima tahun lalu ada pendirian pembangkit listrik tenaga mikrohidro di sana. Masalah tanah membuat proyek itu mangkrak. Mesinnya merana di dalam sebuah bangunan yang tak terurus.
Proyek itu sebetulnya memanfaatkan potensi energi terbarukan di Papua. Sumber daya energi terbarukan paling cocok untuk wilayah yang 95 persen lebih wilayahnya ditutupi hutan lebat dan pegunungan itu. Intensitas radiasi cahaya mataharinya pun tertinggi di Indonesia. Tapi faktanya penetrasi listrik masih rendah.
Berapa kebutuhan listrik Papua dan berapa yang tersedia? Bagaimana pula dengan Indonesia? Dari mana saja sumber listrik kita? Simak infografis berikut:

(DES/DES)











































