"Sekarang jalan. Converter-nya musti dibuat, kalau nggak dibuat kan nggak bisa. Memang mindahin gas ke mobil pakai kaleng," ungkap Chatib di kantornya, Jakarta, Jumat (10/1/2014)
Dalam dua tahun terakhir, konversi memang tidak berlangsung progresif. Anggaran yang sudah disiapkan setiap tahunnya tidak terpakai. Akhirnya hanya tertahan dalam APBN. "Belum ada terpakai," ucapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama ini terjadi dispute antara KESDM dan Kementerian Perindustrian. Waktu meeting tadi dengan Pak Jero Wacik, saya bilang coba diselesaikan dengan perindustrian. Tahun lalu mereka sebenarnya sudah bisa, sudah ketemu siapa yang akan bikin, tapi bulannya sudah Bulan Oktober atau November," kata Chatib
"Kalau dia mau coba lakukan lelang, berarti kan anggarannya musti multityears, padahal itu bukan multiyears. Kalau anggaran bukan multiyears, dipaksa multiyears, nanti jadi masalah. Karena itu, dilakukannya tahun ini," jelasnya.
Anggaran yang ditetapkan sebesar Rp 3 triliun diberikan kepada Kementerian ESDM pada tahun ini. Itu sudah termasuk untuk perluasan pembangunan Stasiun Pengisia Bahan Bakar Gas (SPBG).
"Sudah kita alokasikan. Tapi untuk Kementerian ESDM, tambahan untuk konservasi energi itu sekitar Rp 5 triliun. Jadi kita kasih sekitar Rp 3 triliun," ujarnya.
(mkj/rrd)











































