Anggota Dewan Energi Malu RI Masih Bergantung Impor BBM dan Gas

Anggota Dewan Energi Malu RI Masih Bergantung Impor BBM dan Gas

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Kamis, 27 Feb 2014 11:28 WIB
Anggota Dewan Energi Malu RI Masih Bergantung Impor BBM dan Gas
ilustrasi
Jakarta - Pihak Dewan Energi Nasional (DEN) mengungkapkan infrastruktur dan pasokan energi listrik Indonesia sangat memprihatinkan dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara (ASEAN). Bahkan Indonesia masih bergantung impor energi dari negara lain seperti BBM dan minyak.

Indonesia, dengan jumlah penduduk sebanyak 237 juta jiwa, proporsi pasokan listrik dipasok oleh pembangkit milik PT PLN dengan kapasitas 35,33 Giga Watt (GW) atau setara 35.333 Mega Watt (MW).

Bandingkan dengan Malaysia, jumlah penduduk di sana hanya 29 juta jiwa tetapi porsi pasokan pembangkit setara dengan 28,40 GW atau setara 28.400 MW.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kondisi infrastruktur listrik kita sangat memprihatinkan. Malu saya mengatakannya. Kita tertinggal," kata Anggota DEN, Tumiran pada acara diskusi gas di Hotel Gran Melia, Jakarta Selatan, Kamis (27/2/2014).

Bahkan dibandingkan dengan proporsi pasokan listrik dan penduduk di Singapura, Indonesia lebih jauh tertinggal. Proporsi pasokan listrik di Singapura senilai 10,49 GW atau setara 10.490 MW, sedangkan jumlah penduduk hanya 5,3 juta jiwa.

Selain pasokan listrik yang memprihatinkan, Tumiran menjelaskan pasokan bahan baku listrik juga masih belum mandiri. Untuk mendukung pembangkit, Indonesia harus mendatangkan BBM dan gas secara impor.

"Ketahanan energi kita malu. Kita tergantung energi impor," sebutnya.

Salah satu contoh ketahanan dan pasokan listrik Indonesia yang kurang baik terjadi di Sumatera Utara. Tedapat defisit listrik yang cukup besar, akibatnya sering terjadi pemadaman listrik dan industri tidak bisa tumbuh karena defisit listrik.

"Kasus Sumut, gas nggak ada. Defisit listrik 300 MW di Sumut," sebutnya.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads