"Kita jadi impor listrik dari Serawak Malaysia," kata Direktur Utama PT PLN (Persero) Nur Pamudji ditemui di PLTGU Muara Tawar, Bekasi, Jawa Barat, Senin (17/3/2014).
Nur mengungkapkan, saat ini PLN bersama SEB bersama-sama sedang membangun jaringan transmisi, di mana PLN membangun transmisi sepanjang 86 km dari Bengkayang, sedangkan sisanya transimisi sepanjang 36 km dibangun dari Serawak ke Kalimantan Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, untuk tahap awal impor listrik dari Serawak mencapai 50 MW, lalu akan ditingkatkan hingga 200 MW lebih secara bertahap dalam 5 tahun ke depan. Rencana impor listrik ini ditargetkan pada 2015.
Impor listrik dari Serawak sendiri dianggap lebih hemat, pasalnya jika produksi listrik sendiri, PLN harus menggunakan solar yang harganya lebih mahal, sementara dari Serawak jauh lebih murah karena di Serawak listrik diproduksi menggunakan PLTA (Pembangkit Listrik Tenga Air).
"Jadi begini, kalau di Kalimantan clear di sana pembangkitnya kebanyakan PLTD (berbahan bakar solar), kalau bangun PLTU perlu waktu, paling nggak 4 tahun. Kalau kita beli energi dari Malaysia yang pakai teknologi PLTA itu lebih cepat. Nah sementara itu kita mengganti dulu untuk pembangkit diesel," ungkap Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman beberapa waktu lalu.
Saat ini PLN sedang mempersiapkan transmisi yang bisa menghubungkan listrik antara perbatasan Malaysia dan Indonesia di Kalimantan. Secara hitungan bisnis, membeli listrik di Malaysia jauh lebih murah. Meski demikian ,PLN tetap membangun pembangkit listrik batubara (PLTU) untuk menjaga ketahanan energi di perbatasan.
"Toh dieselnya solarnya impor juga. Solar itu jauh jauh lebih mahal. Kalau pakai solar jatuhnya Rp 3.300 per Kwh. Nah kita impor pakai listrik Malaysia biayanya cuma Rp 900 per kwh. Artinya dua-duanya impor tapi lebih murah," jelasnya.
(rrd/dnl)











































