Direktur Utama PT Pertagas Hendra Jaya mengatakan memang ironis bila membandingkan perkembangan gas kota Indonesia dengan Korsel. Pemanfaatan gas alam cair atau LNG yang diubah menjadi gas untuk rumah tangga di Korsel sangat maju.
Sebagai negara importir gas, konsumen di Korsel harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan gas. Padahal di Indonesia harga gas untuk rumah tangga berdasarkan pengalaman Pertagas seperti di Jambi hanya Rp 3.500-3.700 per kubik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hendra mengatakan bahkan SK salah satu perusahaan swasta Korsel, yang sudah menggarap proyek gas kota di China. Pihaknya juga akan bekerjasama SK dalam pengembangan gas kota di Tanah Air. Ia mengakui kehabatan Korsel, sebagai negara yang tak punya sumber daya energi namun bisa sukses mengembangkan gas kota
"Kita akan belajar dari mereka," katanya
Ia mengakui pembangunan gas kota di Indonesia tak hanya terbentur soal infrastruktur, namun kebijakan energi pemerintah. Untuk itu Pertagas menargetkan bisa memperluas jaringan gas kota untuk 27 kota di Indonesia hingga lima tahun ke depan sesuai penugasan dari pemerintah sejak 2013 lalu.
Menurutnya Indonesia jauh lebih dahulu mengembangkan gas kota daripada Korsel yang memulai era 1980-an. Konsep gas kota di Indonesia, sudah ada sejak zaman Pemerintah Hindia Belanda. Pada waktu itu digarap oleh perusahaan negara yang kini lebih dikenal dengan PGN, yang mengubah batu bara jadi gas.
"Korea punya strategi pakai gas kota dan mereka impor gas dari kita," katanya.
Pertagas saat ini mempunyai sedikitnya 12.000 pelanggan di kota-kota yang dekat dengan pusat gas seperti Jambi, Sengkang Sulawesi Selatan, dan Prabumulih Sumatera Selatan. Lima tahun ke depan ditargetkan akan ada 2 juta pelanggan Pertagas.
"Volumenya masih sangat rendah, hanya 0,5 mmscfd per hari untuk satu kota," katanya.
Selain Pertagas, pemain bisnis gas kota juga dilakukan oleh PT PGN.
(hen/ang)











































