Dahlan Jengkel PLTU Batang Mandek, BUMN Bangun PLTU 'Raksasa' di Cakung

Dahlan Jengkel PLTU Batang Mandek, BUMN Bangun PLTU 'Raksasa' di Cakung

- detikFinance
Selasa, 08 Apr 2014 13:38 WIB
Dahlan Jengkel PLTU Batang Mandek, BUMN Bangun PLTU Raksasa di Cakung
Jakarta - Konsorsium BUMN pimpinan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) di Cilincing, Jakarta Utara berencana untuk membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 2 x 1.000 megawatt (MW) di kawasan itu. Investasinya Rp 20 triliun.

Hal ini disampaikan Menteri BUMN Dahlan Iskan di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat peresmian RS Pekerja di Cakung, Jakarta Utara, Selasa (8/4/2014).

"Akan dibangun PLTU 2 X 1.000 MW. Prosedurnya nggak sulit. Ini akan selesai bersamaan, bahkan bisa lebih maju dari PLTU Batang," kata Dahlan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proyek pembangkit listrik raksasa ini merupakan bentuk kekecewaan Dahlan terhadap lambatnya pengembangan PLTU Batang 2 x 1.000 MW di Batang, Jawa Tengah. Padahal saat menjadi Dirut PLN, dirinya telah melakukan beberapa cara sehingga bisa memperoleh izin.

"Terus terang saya jengkel dengan PLTU Batang itu. Itu proyek pertama skema PPP. Itu bisa terlaksana (izin) karena saya cari terobosan. Dari seluruh PPP hanya PLTU itu yang izinnya keluar. Karena kita cari terobosan. Setelah kita terobos kok nggak jalan-jalan juga. Sementara saya sekarang sudah nggak berada di lingkungan PLN. Sehingga kita terobos lagi di sini (Cakung)," jelasnya.

Untuk pembangunan PLTU 2 x 1.000 MW ini, korsorsium memperkirakan nilai investasi Rp 20 triliun. Dahlan mengakui, proyek PLTU dinilai tidak bakal menghadapi persoalan pembiayaan karena secara bisnis sangat menjanjikan.

"Kalau 2 x 1.000 bisa Rp 20 triliun. Biar KBN yang cari pendanaan. PLTU nilai ekonomi baik, biar secara komersial dan bisnis," jelasnya.

PLTU yang berlokasi di KBN ini telah memasuki fase perjanjian kerjasama dengan pihak korsorsium. Untuk proses kontruksi, KBN selaku pimpinan konsorsium menggandeng investor asal Tiongkok.

"Progres mau tandatangan konsorsium agreement. Ada China dan lokal partner," katanya.

PLTU Batang sampai saat ini tersendat karena persoalan lahan. Padahal bila jadi, PLTU ini merupakan yang terbesar di ASEAN.

(feb/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads