RI Ketergantungan Impor BBM, BUMN Ini Justru Ekspor Bioetanol ke Filipina

RI Ketergantungan Impor BBM, BUMN Ini Justru Ekspor Bioetanol ke Filipina

- detikFinance
Rabu, 02 Jul 2014 14:20 WIB
RI Ketergantungan Impor BBM, BUMN Ini Justru Ekspor Bioetanol ke Filipina
Foto: Ekspor perdana bioetanol PTPN X
Mojokerto -

PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) melalui anak usahanya, PT Energi Agro Nusantara (Enero) hari ini, Rabu (2/7/2014), melakukan ekspor perdana produk bioetanol ke Filipina. Perusahaan mendapat pesanan awal 4.000 meter kubik bioetanol yang akan diekspor dalam dua tahap pengiriman.

"Ekspor perdana ini menjadi pemula dari upaya kami memacu kinerja pabrik bioetanol pada masa mendatang," ujar Dirut PTPN X, Subiyono dalam siaran pers yang diterima, Rabu (2/7/2014).

Meski demikian, Subiyono mengaku kecewa dengan respons pasar dalam negeri yang minim terhadap pemanfaatan bioetanol untuk menopang ketahanan energi. Pemerintah juga dinilai tidak serius mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati seperti bioetanol dari tetes tebu (molases).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Banyak orang bicara kedaulatan energi. Tapi mana kenyataannya? Negeri kita impor BBM terus, realisasi produksi minyak menurun, cadangan minyak bumi menipis, tapi ini ada potensi bioetanol yang sifatnya terbarukan dan ramah lingkungan kok malah tidak dioptimalkan," tutur Subiyono.

Selain Filipina, PTPN X juga tengah menjajaki kerjasama ekspor dengan negara-negara lain di antaranya Korea Selatan, Taiwan, dan Belanda.

"Ada beberapa perusahaan yang sudah menyatakan minat terhadap produk bioetanol kami. Sudah ada pembicaraan. Semoga bisa segera terealisasi kontrak jual-belinya. Tapi sejujurnya saya kecewa karena niat bangun pabrik dulu adalah untuk menopang kedaulatan energi Indonesia, bukan untuk energi negara lain," katanya

Dia menjelaskan, Filipina menjadi salah satu pasar yang prospektif karena negara itu sedang gencar mencanangkan mandatory blending BBM E 10 (kewajiban pencampuran 10% bioetanol dalam bahan bakar kendaraan).

Tak hanya itu, peluang memasok pasar Filipina makin besar karena Thailand akan mengurangi ekspor bioetanolnya dan lebih untuk dipakai sendiri di dalam negeri akibat peningkatan mandatory blending dari E10 menjadi E20 (kewajiban pencampuran 20% bioetanol) di Thailand.

Kapasitas produksi pabrik bioetanol di seluruh Indonesia saat ini mencapai 77.000 kiloliter per tahun. Namun, guna memenuhi kebutuhan bioetanol yang dicampur dengan minyak bumi untuk bahan bakar kendaraan, dibutuhkan sekitar 120.000 KL.

"Jadi sebenarnya kalau semua kompak mendukung pemanfatan biofuel, kita kekurangan. Tapi karena minim dukungan, kami selaku produsen akhirnya memilih ekspor. Pemerintah tidak punya good will untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan," kata Dirut Enero Agus Budi Hartono menambahkan.

Pabrik bioetanol PTPN X menghasilkan bioetanol fuel grade dengan tingkat kemurnian minimal 99,5 persen yang sangat ramah lingkungan serta memiliki angka oktan yang tinggi yaitu RON (Research Octane Number) 120.

Bioetanol produksi anak usaha PTPN X ini dihasilkan dari pabrik seluas 6,5 hektar yang ada di Mojokerto, Jawa Timur. Pabrik tersebut mempunyai desain kapasitas produksi sebesar 30.000 kiloliter per tahun.

Bioetanol dihasilkan dari pengolahan terhadap hasil samping industri gula atau yang biasa disebut sebagai tetes tebu (molasses).

Bahan baku yang dibutuhkan oleh pabrik itu adalah 120.000 ton molasses (tetes tebu) yang akan diambil dari pabrik gula milik PTPN X. Total investasinya adalah Rp 467,79 miliar dengan skema pendanaan terdiri atas hibah NEDO Jepang Rp 154 miliar dan dana PTPN X Rp 313,79 miliar.



Memberi Nilai Tambah

Selain menopang ketahanan energi, pemanfaatan bioetanol juga akan meningkatkan kinerja industri gula di Tanah Air. Pabrik gula tak lagi harus bergantung pada pendapatan dari bisnis gula saja.

"Selain diolah jadi gula, tebu ini bisa menghasilkan listrik co generation dari pengelolaan ampas tebu, menjadi bioetanol dari tetes tebu, pupuk organik, pakan ternak, enzim dan asam amino , particle board, ragi roti, dan masih banyak lagi," paparnya.

Dia mencontohkan Brasil yang sukses mendorong pemanfaatan energi berbasis tebu. Sekitar 19 persen pasokan energi Brasil ditopang oleh bioetanol berbasis tebu.

Jika itu sukses dilakukan di Indonesia, akan tercipta keberlanjutan energi karena cadangan minyak bumi yang menipis bisa dikonversi oleh bahan bakar nabati yang mempunyai sifat terbarukan dan ramah lingkungan.

"Kita juga bisa hemat devisa karena mengurangi impor BBM. Subsidi BBM yang ratusan triliun itu otomatis juga berkurang," imbuh Agus.

(zul/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads