Untuk melistriki banyak rumah dan mencukupi permintaan listrik terus naik, PT PLN (Persero) membutuhkan Rp 40 triliun per tahun untuk membangun pembangkit dan jaringan. Salah satu sumber dananya dari utang.
Direktur Utama PLN Nur Pamudji mengatakan, pertumbuhan permintaan listrik terus meningkat, masih ada masyarakat yang rumahnya belum teraliri listrik. Kedua hal tersebut merupakan tantangan besar bagi PLN.
"Tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kalau ditanya dananya dari mana, tentu sekarang lebih gampang, karena kita sudah masuk Fortune 500, itu salah satu modal mencari dana," kata Nur ditemui di Kantor PLN Pusat, Jakarta, Senin (4/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu dampaknya besar bagi sebuah perusahaan. Dengan sumber daya dari utang dengan mengurangi ketergantungan PLN terhadap pemerintah, membuat kebutuhan investasi PLN dapat terpenuhi, dapat membangun pembangkit listrik dan jaringan listrik lebih banyak lagi," ungkapnya.
Nur mengakui, untuk masuk Fortune Global 500 tidaklah mudah, namun sebagian besar perusahaan yang masuk dalam daftar tersebut mayoritas adalah perusahaan minyak dan listrik.
"Kalau kita teliti yang masuk Fortune 500 itu kebanyakan perusahaan minyak dan listrik, perusahaan listrik Tiongkok peringkatnya tinggi di sana. Kenapa? Karena saat ini kebutuhan energi dunia bergerak luar biasa tinggi, PLN masuk bukan karena hanya mengandalkan tarif listrik, tapi karena pertumbuhan konsumsi energi listrik semakin tinggi, dan kita punya 54 juta pelanggan dan Rp 15 triliun masuk lancar tiap bulan ke kas PLN," tutupnya.
(rrd/dnl)











































