Dulu Belajar ke RI, Vietnam dan Korsel Bangun Pembangkit Nuklir Lebih Dulu

Dulu Belajar ke RI, Vietnam dan Korsel Bangun Pembangkit Nuklir Lebih Dulu

- detikFinance
Sabtu, 09 Agu 2014 18:24 WIB
Dulu Belajar ke RI, Vietnam dan Korsel Bangun Pembangkit Nuklir Lebih Dulu
Jakarta - Negara-negara Asia seperti Korea Selatan, Vietnam hingga Malaysia dahulu belajar tentang teknologi nuklir untuk keperluan energi listrik kepada Indonesia yang sudah lebih awal menguasai dan memiliki teknologi nuklir.

Namun Korea Selatan justru lebih awal memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sedangkan Vietnam dan Malaysia sedang membangun PLTN. Sementara Indonesia yang telah siap dan menjadi guru negara-negara tersebut baru akan memulai pembangunan reaktor riset untuk keperluan energi berkapasitas 30 Mega Watt (MW) di Serpong.

"Kita mencoba. Memang kita belum siap atau apa ya. Ya kita itu tadi, 100 MW belum juga. Kita coba sendiri untuk buat kapasitasnya 30 MW," kata Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta pada acara RITECH Expo 2014 di Kantor BPPT Jalan MH Thamrin Jakarta, Sabtu (9/8/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Penguasaan dan Perkembangan Iptek Masyarakat Kemenristek Wisono menerangkan RI telah memiliki dan menguasai teknologi nuklir sejak tahun 1960an. Indonesia sendiri memiliki reaktor nuklir di 3 lokasi yakni Yogyakarta, Bandung dan Serpong. Secara kemampuan dan teknologi, Indonesia sudah sangat siap mengembangkan PLTN.

"Di ASEAN kita yang pertama. Kita sudah siap, dari tahun 60an. Vietnam belakangan dari kita tapi dia sedang membangun PLTN. Jelas Vietnam, Korsel dan Malaysia belajar dari Indonesia," katanya.

Kemenristek sendiri tengah menyiapkan studi PLTN untuk dibangun di Bangka. PLTN yang disiapkan memiliki kapasitas 4.000 MW. Kapasitas ini dinilai sangat besar. Wisono menerangkan awalnya PLTN akan dibangun di daerah Jepara namun karena ada pro dan kontra akhirnya dipindahkan ke Bangka. Di Bangka, PLTN akan di bangun pada 2 titik.

"Jepara siap, IAEA setuju. Paling bagus di sana. Kalimantan cocok tapi mahal karena harus bikin kabel lautnya," jelasnya.

Bangka dipilih karena dari sisi lokasi sangat cocok. Selain itu masyarakat di sana secara umum mendukung pembangunan PLTN.

"Demografi baik, daerah steril, tinggal hubungkan kabel bawah laut Jawa Sumatera. Dibangun di Bangka Barat dan Selatan karena dinilai tapak-nya layak," ujarnya.

Ke depan kebutuhan listrik sangat tinggi khususnya area Pulau Jawa dan Bali sehingga PLTN bisa menjadi sumber energi lain selain batubara dan minyak. Tenaga ahli Indonesia sendiri juga telah mampu mengolah uranium sebagai bahan baku PLTN.

"Bahan baku sudah bisa dibuat. Di Kalimantan ada tapi saat ini kita masih beli dari luar," ujarnya.

(feb/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads