Pantauan detikFinance, ratusan kapal berbagai jenis dan ukuran antre di lokasi SPBN. Sejumlah nelayan memilih tidak melaut karena tidak mendapatkan jatah BBM jenis solar. Kalaupun mendapat jatah solar, jumlah solar yang diberikan tidak cukup untuk melaut.
Seorang pemilik kapal Andi Abdurrani mengatakan, pihaknya tidak mempermasalahkan jika harga solar dinaikkan oleh pemerintah. Ia hanya berharap pasokan BBM tetap tersedia sehingga para nelayan bisa melaut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, imbas dari berkurangnya pasokannya solar yaitu sekitar 10 ribu tenaga kerja terpaksa harus menganggur karena tidak dapat melaut.
"Mereka mencari nafkah untuk makan sehari, jadi kalau tidak melaut mereka tidak punya penghasilan," jelasnya.
Sementara seorang pemilik kapal ukuran 30 GT Nazar mengatakan, sudah seminggu mereka tidak melaut karena tidak mendapat jatah solar. Akibatnya, ia mengalami kerugian sebesar Rp 750 ribu per hari karena harus mensubsidi 25 pekerja.
"Mereka saya subsidi per hari Rp 30.000 per orang karena sejak Kamis kemarin mereka tidak melaut," ungkapnya.
Seorang nelayan lainnya Muammar, mengaku SPBN Lampulo sebelumnya mendapat jatah pasokan solar sebanyak 16 ton per hari.
"Tapi sekarang cuma dapat pasokan 8 ton," kata Muammar.
Seperti diketahui berdasarkan surat Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Agustus lalu, pasokan BBM subsidi untuk nelayan ditekan hingga 20%.
(rrd/hen)











































