Pembatasan kuota BBM bersubsidi yang dilakukan PT Pertamina (Persero) pada 18-26 Agustus menimbulkan antrean di sejumlah SPBU di Indonesia. Kalangan pengusaha menilai lebih baik harga BBM subsidi naik daripada pasokan BBM dikurangi sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan BBM subsidi.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi mengatakan, pengusaha di Indonesia mengalami kerugian materi dan waktu dengan kejadian itu. Meski tak menyebut pasti berapa besaran kerugiannya, Sofjan kesal akan hal ini.
"Pegawai kita antrean berjam-jam jadi dia nggak bisa masuk. Akhirnya terlambat masuknya ke pabrik kita, kita kerugiannya di sana," kata Sofjan di acara Talkshow bersama Pengembang Real Estat Indonesia di Hotel JS Luwansaa, Jakarta, Kamis (28/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Daripada gitu sudah naikkan saja. Di luar Jawa sudah beli dengan harga yang naik. Sekarang main-main silat lidah itu untuk apa, semua rakyat antre begitu. Yang penting BBM itu ada, mau naik harga itu lebih baik daripada barangnya nggak ada, harus antre berjam-jam," tegasnya.
Ia menambahkan, tak ada opsi lain selain menaikkan untuk mengatasi persoalan BBM bersubsidi ini.
"Tidak ada opsinya, kalau pemerintahan masih SBY, apa opsinya?" tanya Sofjan.
(zul/rrd)











































