Jokowi Mau Naikkan Harga BBM Rp 3.000/Liter, BPH Migas: Bagusnya Rp 4.000/Liter

- detikFinance
Senin, 22 Sep 2014 15:28 WIB
Jakarta - Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp 3.000 per liter jelang akhir tahun. Namun, pejabat Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menegaskan akan lebih baik jika kenaikan harganya sampai Rp 4.000 per liter.

"Berani naikkan Rp 3.000 per liter bagus. Tapi lebih bagus lagi sekalian Rp 4.000 per liter naiknya," tegas Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (22/9/2014).

Andy mengatakan, dampak kenaikan harga BBM bersubsidi Rp 4.000 per liter sama saja dengan kenaikan Rp 3.000 per liter. Namun manfaatnya untuk keuangan negara tentu lebih baik jika kenaikannya Rp 4.000 per liter.

"Dampaknya sama, paling hanya 6 bulan. Setelah itu landai lagi, orang sudah nggak terbebani sama sekali dengan kenaikan harga BBM. Tapi (kenaikan Rp 4.000 per liter) anggaran yang dihemat jauh lebih besar. Tiap kenaikan Rp 1.000 per liter penghematan lebih dari Rp 48 triliun," jelasnya.

Andy menambahkan, berapa pun besaran kenaikan harga BBM bersubsidi memang perlu diimbangi dengan pemberian program bantuan terutama untuk masyarakat miskin.

"Bahkan kalau saran saya, sebelum kenaikan harga BBM dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau semacamnya sudah digelontorkan. Jadi masyarakat kecil tidak terbebani, biasa beli ke pasar habis Rp 100.000 ada kenaikan harga BBM belanjanya jadi Rp 150.000 nggak jadi masalah karena sudah ada bantuan dari pemerintah," jelasnya.

Ia menambahkan lagi, pemerintah juga jangan lupa ketika sudah menaikkan harga BBM subsidi pembangunan infrastruktur harus dilakukan.

"Dana penghematannya juga dialihkan untuk membangun infrastruktur transportasi, nambah sambungan listrik di desa, pembangunan infrastruktur pertanian dan nelayan, itu penting. Jangan cuma memperbaiki postur anggaran saja," tegasnya.

(rrd/hds)