Berlangsung di lantai 17 kantor Kementerian BUMN, pertemuan tersebut membahas soal penyerapan jatah LNG (liquid natural gas) yang dialokasikan untuk dalam negeri.
Ternyata, Dahlan mendapatkan informasi, LNG dari lapangan Tangguh di Papua dan Bontang di Kalimantan Timur, yang dialokasikan untuk dalam negeri, tidak terserap. Namun penjelasan dua bos BUMN energi ini berbeda. Mereka menyerap LNG yang dialokasikan untuk dalam negeri tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai rapat, Karen buru-buru meninggalkan ruang pertemuan tanpa berbicara sepatah kata. Sementara Nur masih ikut mendampingi Dahlan saat berbicara di depan awak media.
Di samping Nur, Dahlan menjelaskan, rencana pemanfaatan LNG di dalam negeri untuk keperluan pembangkit listrik. Pertamina dan PT Pelindo III akan bekerjasama membangun receiving terminal LNG di Benoa, Bali.
Proses pembangunan receiving terminal dilakukan selama 2 tahap. Tahap pertama adalah membangun dan menyiapkan receiving terminal terapung. Langkah selanjutnya membangun receiving terminal di darat. Proses membangun receiving terminal di darat memerlukan waktu sekitar 2 tahun.
"Sementara kita perlu LNG itu cepat, karena itu, sementara kita akan sewa receiving terminal yang terapung di atas laut. Tapi itu sewanya di atas laut. Sambil menunggu yang di darat selesai," sebutnya..
Pada kesempatan yang sama, Nur menjelaskan, LNG ini nantinya dipakai sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik yang dioperasikan oleh PLN di Bali.
Proses pembangunan bisa dimulai tahun depan. Receiving terminal ini nantinya dibiayai oleh Pertamina. Sedangkan kapasitas 'mini' receiving terminal LNG di darat mampu menampung hingga 50 MMSCFD.
"Kapasitasnya 50 MMSCFD. Boleh dikatakan sebagai mini LNG. Kalau investasinya dari Pertagas (anak usaha Pertamina)," kata Nur.
(feb/dnl)











































