Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pemberdayaan Daerah Natsir Mansyur mengatakan, investor dalam negeri kurang berminat menggarap SPBG. Pasalnya, belum ada jaminan pasokan gas.
"Sebenarnya orang mau investasi. Tapi supply gasnya dari mana?" kata Natsir di Menara Kadin, Jakarta, Senin (12/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun begitu, menurut Natsir, jika pasokan gas lancar maka investasi di SPBG akan sangat menguntungkan. Apalagi jika semakin banyak kendaraan yang beralih dari bahan bakar minyak (BBM) ke gas.
"Investasi di SPBG sekitar Rp 20-30 miliar, itu per satu unit. Kalau memang ini jalan, tentu untunglah. Harga lebih murah dari minyak," katanya.
Lebih jauh Natsir menjelaskan, melalui pembangunan SPBG maka era BBM yang justru membuat beban negara akan perlahan ditinggalkan. "Kita tinggalkan era BBM dengan gas. Masalahnya, infrastruktur gas yang tidak siap," tegasnya.
Tidak hanya SPBG, infrastruktur gas seperti LNG Receiving Terminal pun masih minim. Kadin, demikian Natsir, ingin membangun LNG Receiving Terminal di setiap provinsi.
"Kalau LNG Receiving Terminal ini kita bangun setiap provinsi, maka akan menggerakkan dan menumbuhkan perekonomian nasional dan daerah. Ini akan meningkatkan permintaan gas sebesar 30-40%," katanya.
(hds/hds)











































