"Itu lah tantangannya, karena mereka kan ada ketakutan. Ya itu nanti akan kita adakan pendekatan," kata Husen di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur (14/10/2014).
"Itu biasalah. Tugas kami nanti yang meyakinkan masyarakat, pentingnya adanya SPBG di mana-mana," sambung Husen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira sudah (melakukan kajian). Kita selalu kalau membangun itu pasti," ucapnya.
Husen menambahkan, hingga kini pihak Pertamina masih melakukan pendekatan kepada warga agar SPBG tersebut bisa dioperasikan. "Insya Allah nantinya mereka bisa terima," imbuhnya.
VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan hal senada dengan Husen. Ia menganggap adanya penolakan dari warga atas pendirian SPBG itu sebagai hal biasa di negara demokrasi.
"Ini kan negara demokrasi, semua orang bisa menyuarakan aspirasinya. Kita hargai lah," kata Ali.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebuah SPBG di Kelurahan Ragunan, Jakarta Selatan, hingga kini belum beroperasi. Warga sekitar kebanyakan menolak keras pembangunan SPBG tersebut karena lokasinya di samping sebuah rumah ibadah.
Seorang warga yang tidak mau disebut namanya ketika diwawancarai detikFinance menyebut, warga menolak SPBG itu karena takut mengganggu aktivitas ibadah. Banyak juga yang beralasan takut SPBG meledak, dan banyak lagi alasan lainnya.
Ia mengungkapkan, sejak awal proyek pembangunan SPBG tersebut warga sering kali melakukan aksi demo penolakan. "Demo tak membuahkan hasil, SPBG tetap dibangun, 25 Februari 2014 warga mendaftarkan gugatan penolakan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan nomor gugatan 103/pdt.G/2014/PN Jaksel," katanya.
Berdasarkan pengamatan, SPBG tersebut sudah hampir 100% selesai, semua infrastruktur yang dibangun sudah jadi dan siap dioperasikan. Namun akibat penolakan warga tersebut SPBG tersebut sampai saat ini masih dipagari seng, tepat di sebelah kiri terpasang spanduk-spanduk penolakan warga.
(bar/ang)











































