"Saya yakin, presiden baru kita Pak Jokowi mampu melaksanakan yang baik-baik. Pak SBY sudah menyediakan landasan kapal induk untuk take off ke mana saja. Apa saja bisa, tinggal melaksanakan," kata Susilo di kantor Kementerian ESDM, Senin (20/10/2014).
Menurut Susilo, ada banyak pekerjaan rumah Jokowi di bidang energi. Di sektor migas, dia menyebutkan 4 pekerjaan rumah yang paling pokok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk kelistrikan, lanjut Susilo, pekerjaan utama pemerintahan Jokowi adalah membangun pembangkit baru. Dia menyebutkan Indonesia butuh 6-10 ribu MW per tahun sampai 2025.
"Itu dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meng-handle pertumbuhan penduduk yang 1,1% per tahun. Termasuk juga pemanfaatan sumber energi yang pas, misalkan batu bara. Kita tak punya pilihan menempatkan batu bara sebagai backbone (tulang punggung) pembangkit listrik, paling tidak 65%," jelasnya.
Di sektor mineral dan batu bara (minerba), tambah Susilo, yang paling krusial adalah renegosiasi konterak. Jika ini sudah selesai, maka selanjutnya adalah memastikan pembangunan fasilitas pengolahan (smelter).
"Di bidang lainnya adalah pembangunan kilang, itu harus jadi. Lalu penyediaaan penyangga cadangan strategis, itu harus jadi. Lalu melaksanakan membuat kebijakan nasional gas, utamanya pembangunan infrastruktur, ujung-ujungnya semua bagaimana kita bisa mengurangi impor BBM," terangnya.
(hds/dnl)











































