Sudirman Said: Bicara Nasib Petral Hingga Atasi Krisis Listrik Sumsel

Sudirman Said: Bicara Nasib Petral Hingga Atasi Krisis Listrik Sumsel

- detikFinance
Senin, 03 Nov 2014 11:14 WIB
Sudirman Said: Bicara Nasib Petral Hingga Atasi Krisis Listrik Sumsel
Jakarta - Di akhir pekan, Menteri ESDM Sudirman Said melakukan sejumlah kegiatan. Mulai mengisi diskusi soal energi hingga mengatasi krisis listrik di wilayah Sumatera Selatan.

Selain itu, Sudirman juga sempat menyambangi kantor PT Pindad (Persero) di Bandung hari Minggu kemarin. Sebelum menjabat Menteri ESDM, Sudirman merupakan Direktur Utama Pindad, BUMN produsen senjata.

Pernyataan, aksi, dan kebijakan Sudirman mewarnai pemberitaan detikFinance pada akhir pekan kemarin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut kegiatan serta kebijakan yang dilakukan Sudirman pada akhir pekan lalu, seperti dirangkum, Senin (3/11/2014).

1. Bicara Nasib Petral

Sebelum Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi dilantik, wacana pembekuan anak usaha Pertamina, yaitu PT Pertamina Trading Limited (Petral) mengemuka. Ini muncul dari Tim Transisi Jokowi-JK.

Namun, Sudirman berpendapat, Petral tidak perlu dibubarkan. Menurutnya, keberadaan anak usaha Pertamina yang berkedudukan di Singapura ini, hanya perlu ditingkatkan pengawasannya agar lebih berpihak pada kepentingan nasional

"Petral itu tidak harus dibubarkan, tapi kontrolnya harus dapat yang bepihak ke nasional," kata Sudirman.

Petral yang 100% sahamnya dimiliki Pertamina, harus bisa ditingkatkan pengawasannya.

"Petral itu 100% sahamnya dimiliki Pertamina, jadi kalau manajemen Pertamina baik, komisaris Pertamina baik, Petral ini bisa jadi suatu industri strategis bagi Indonesia," jelasnya.

Dengan kedudukan di Singapura, Sudirman menyebut, kondisi ini menguntungkan Indonesia, agar lebih mudah menjalin komunikasi dengan pelaku usaha asing di dunia internasional. Banyak perusahaan asing di berbagai sektor yang menempatkan kantor perwakilannya di Singapura.

"Singapura adalah negara yang strategis dalam membangun bisnisβ€Ž," pungkasnya.

2. Naikkan Harga BBM, Pak Jokowi Siap Ambil Pekerjaan Sulit

Banyak pihak menyatakan, popularitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) bisa menurun, apabila menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Sudirman Said menerangkan, alasan diambilnya kebijakan ini adalah untuk mengeluarkan masyarakat Indonesia dari jebakan zona nyaman.

"Kita sudah sering menghindari pekerjaan yang sulit tapi penting untuk rakyat. Nah pak Jokowi ini akan melakukan pekerjaan ini sulit itu," tutur Sudirman.

Ia menyebut, selama ini Indonesia terlalu lama terjebak dalam keadaan nyaman, yang sebenarnya justru berbahaya bagi kelangsungan ekonomi Indonesia yang berdaulat.

"Ini hal yang terjadi selama ini kita terjebak dalam kondisi nyaman dan hanya melakukan hal yang mudah saja," sebutnya.

Harga BBM yang murah membuat masyarakat Indonesia terlena dan boros dalam konsumsi BBM. Borosnya konsumsi BBM sementara produksi nasional sangat rendah tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi tersebut membuat impor energi menjadi hal yang sulit dihindarkan.

"Yang membuat kita bergantung pada impor adalah sikap-sikap yang tidak mau sulit, tidak mau repot. Nyaman saja dengan kondisi yang ada saat ini," sambungnya.

Rendahnya produksi BBM nasional ini, lantaran secara infrastruktur Indonesia memang bisa dikatakan tidak memadai. Ini bisa terjadi karena tak ada pembangunan infrastruktur baru dalam jangka waktu yang sangat lama.

"Kilang kita paling baru bikinan tahun 80, selebihnya tahun 60 tahun 40. Dan hanya bisa menghasilkan produk bernilai tambah rendah. Untuk yang kualitasnya tinggi itu harus impor. Tangki-tangki penyimpanan kita hanya mampu menyimpan cadangan 18 hari dan turun terus. Kalau begitu bagaiman kita mau berdaulat energi," tegas dia.

Sudirman mengharapkan masyarakat bisa mengerti keputusan sulit yang terpaksa harus diambil Presiden Jokowi terkait BBM ini.

3. Kembalikan Mobil Dinas Pindad

Minggu kemarin, Sudirman mendatangi kantor lamanya, PT Pindad (Persero) di Jalan Gatot Soebroto, Bandung. Kedatangan Sudirman untuk mengembalikan mobil dinas, yang selama ini ia gunakan saat menjadi Dirut Pindad.

"Saya sengaja ke sini, baru sempat. Saya punya utang mengembalikan mobil. Sudah seminggu ini saya pakai," ujar Sudirman.

Sedan Toyota Camry hitam bernopol D 552 DU digunakan Sudirman sejak 5 bulan terakhir. Sudirman sendiri baru duduk sebagai Dirut mulai Juni 2014, yang kemudian terpilih sebagai Menteri ESDM. Ia pun menjadi dirut tersingkat di Pindad.

Nantinya, Sudirman akan menggunakan kendaraan dinas sebagai menteri dengan nopol RI 33.

Soal tugas barunya itu, Sudirman mengaku tak merasakan banyak perbedaan. "Sama-sama tugas. Hanya ini cakupannya tambah luas, yang diurusi sama-sama soal kedaulatan. Dulu kedaulatan persenjataan, sekarang kedaulatan energi," tuturnya.

Selain mengembalikan mobil, Sudirman yang datang bersama dua anaknya itu pun sempat menjajal beberapa senjata. Ia terlihat asyik berbincang santai dengan sejumlah rekan kerjanya di Pindad. Hadir dalam acara tersebut juga Staf Ahli Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Bidang Hubungan Kerjasama Sylmi Karim.

4. Gebrakan Atasi Krisis Listrik Sumsel

Sudirman Said ingin krisis listrik di Sumatera, khususnya Sumatera Selatan, segera diatasi. Sudirman telah meminta pihak-pihak yang terkait untuk melakukan penanganan.

Beberapa hari terakhir, Sumsel mengalami pemadaman listrik (blackout). Ini akibat masalah di pembangkit listrik Borang. Menurut Sudirman, masalahnya adalah tidak ada pasokan gas ke pembangkit ini.

Untuk mengatasi kebutuhan pasokan gas bumi untuk Sumsel yang sangat mendesak, Menteri ESDM meminta pihak terkait untuk segera menyelesaikan masalah ini. Sudirman Minggu kemarin,Β  menghubungi Dirut PT PLN (Persero), Dirjen Migas Kementerian ESDM, dan Plt Kepala SKK Migas.

Menteri ESDM memerintahkan pasokan gas panas bumi segera dialirkan ke PLTG Borang. Melalui SKK Migas, Menteri ESDM meminta untuk mengalirkan gas bumi ke Borang untuk mengatasi kondisi tersebut.

Menurut Sudirman, ini adalah bagian dari solusi cepat untuk mengatasi masalah atau debottlenecking. Jika diperlakukan biasa atau business as usual, maka kerugian masyarakat Sumsel akan semakin besar.

Kepada Pertamina EP, Sudirman meminta agar tetap mengalirkan gas buminya ke Borang. Segala sesuatu terkait formalitas (paper work) bisa dikerjakan besok di bawah koordinasi SKK Migas.
Halaman 2 dari 5
(dnl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads