Hal tersebut seperti diungkapkan Ketua Komite Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri di temui detikFinance, di Hotel Sangri-La, Jakarta, Selasa (18/11/2014).
"Contoh seperti demo BBM para mahasiswa di Sumatera Utara, rakyatnya marah, sampai berantem dengan mahasiswa, hal yang sama juga terjadi di Makasar," ujar Faisal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mahasiswa itu demo mengutamakan kepentingannya sendiri yang ke kampus naik mobil, itu mereka yang paling menderita, yang efeknya besar karena uang jajannya akan berkurang, jadi mereka berjuang untuk diri mereka sendiri, itu yang membuat rakyat marah," ungkapnya.
Ia menilai, kalau para mahasiswa tersebut benar-benar membela kepentingan rakyat miskin seperti petani, nelayan dan golongan lainnya, bukan harga BBM yang dipersoalkan.
"Orang miskin itu butuh akses jalan di desa yang lebih baik agar petani dapat akses lebih mudah membawa produksinya, butuh angkutan yang lebih besar, sekarang yang irigasi sebagian sudah ruak, itu yang harusnya diperjuangkan. Makanya si orang miskin sekarang diem saja, nggak pernah bersuara, pasrah, karena tidak ada yang mewakilinya sekarang," tutupnya.
(rrd/ang)











































