"Mereka ambil nilainya Rp 18-20 triliun per tahun dari hasil alam Sumbawa," ucap Zulkifli ketika ditemui di Taliwang, Sumbawa Barat, NTB, Kamis (20/11).
Zulkifli menuturkan bahwa operasional Newmont selama ini telah menghasilkan pajak hingga triliunan rupiah per tahun. Perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu juga membayar royalti pada negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Newmont memulai eksplorasi di Proyek Batu Hijau yang terletak Kabupaten Sumbawa Barat sejak 1986. Sementara itu operasi penambangan dimulai sekitar tahun 2000-an.
Sementara itu, Presiden Direktur Newmont Nusa Tenggara Martiono Hadianto menjelaskan posisi perusahaan soal pembangunan fasilitas pengolahan atau smelter. Dia menyebutkan, Newmont tidak bisa membangun smelter sendiri karena kapasitas produksinya tidak mencukupi.
"Sekarang ini kita menyatakan produksi kita tidak mungkin memenuhi smelter sendiri. Kita partisipasi dengan Freeport," kata Martiono.
Selain dengan Freeport, Newmont juga berkomunikasi dengan Indosmelter Gresik terkait pembangunan smelter. "Indosmelter juga termasuk. Siapa duluan kita tidak tahu," katanya.
Pada September 2014 lalu, Newmont telah menandatangani kesepahaman renegosiasi kontrak dengan pemerintah. Salah satu poinnya adalah Newmont diharuskan melakukan pengolahan atau pemurnian hasil tambangnya di dalam negeri dengan membangun smelter.
Newmont juga diharuskan memberikan uang jaminan kepada pemerintah Indonesia sebesar US$ 25 juta yang akan disimpan di bank. Uang jaminan ini sebagai bentuk komitmen Newmont akan membangun smelter.
(imk/hds)











































