Kini, selisih harga antara Premium dengan BBM non subsidi seperti Pertamax tidak terlalu jauh. Saat ini, harga Pertamax di daerah Jabodetabek adalah Rp 9.950 atau selisih Rp 1.450/liter.
Harga yang tidak terlalu jauh ini membuat Pertamax diminati masyarakat. Ali Mundakir, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), menyebutkan konsumsi Pertamax naik 20-30% secara rata-rata nasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana strategi Pertamina berharapan dengan perusahaan-perusahaan 'raksasa' ini? "Kita terus perbaiki pelayanan," ujar Ali kepada detikFinance, Kamis (27/11/2014).
Dari sisi produk, lanjut Ali, Pertamax tidak kalah dengan BBM non subsidi keluaran Shell dan Total. "Kalau produk, produk kita bagus. Mulai Pertamax, Pertamax Plus, sampai Dex itu terjamin mutu kualitas bahan bakarnya," tutur Ali.
Pertamina, tambah Ali, akan memperbanyak nozel pengisian Pertamax di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk mengakomodasi peningkatan konsumen. "Kita perbanyak nozel Pertamax biar masyarakat tidak perlu antre," katanya.
Pertamina, tambah Ali, akan memperbanyak nozel pengisian Pertamax di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk mengakomodasi peningkatan konsumen. "Kita perbanyak nozel Pertamax biar masyarakat tidak perlu antre," katanya.
Penambahan nozel, menurut Ali, saat ini sedang dilakukan secara bertahap. Bahkan Pertamina mengganti nozel BBM bersubsidi menjadi nozel Pertamax.
"Di Jakarta saat ini sudah 50:50 antara nozel subsidi dengan non subsidi, sebelumnya 30:70. Tujuannya agar masyarakat yang beli Pertamax tidak antre. Masa beli Pertamax harus antre," jelasnya.
(hds/hen)











































