PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) kini tak lagi bergantung pada PT PLN (Persero) untuk mendapat pasokan listrik. Melalui anak usahanya Krakatau Energy Solution dan Krakatau Daya Listrik, pasokan listrik didapat dari pembangkit listrik tenaga uap dan gas berkapasitas 120 MW.
Presiden Direktur Krakatau Daya Listrik Alugoro Mulyowahyudi mengatakan, sebelum power plant milik group Krakatau tersebut beroperasi, perseroan harus membeli listrik dari PLN.
Kebutuhan listrik normal untuk beberapa pabrik di kompleks Krakatau Steel sendiri mencapai 170 MW. Kebutuhan tersebut pun kadang naik turun tergantung tingkat produksi yang dilakukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alugoro menuturkan, kini Krakatau memiliki Combine Cycle Power Plant berkapasitas 120 MW yang dihasilkan dari 2 power plant berkekuatan gas turbin dan 1 power plant berkekuatan steam turbin atau uap.
"Bisa saja kami kelebihan. Karena terkadang kebutuhan itu naik turun bisa juga sampai 100 MW. Kalau kelebihan kami ingin jual ke PLN," tambahnya.
Ditambahkan Alugoro, pihaknya menggelontorkan US$ 120 juta atau sekitar Rp 1,2 triliun untuk membuat pembangkit listrik tersebut. Selain tak bergantung lagi pada PLN, pasokan listrik yang didapat dari CCPP tersebut menghemat biaya perusahaan.
(zul/ang)










































