Yanto Sianipar, Senior VP Policy, Government, & Public Affaris Chevron Pacific Indonesia, mengatakan Lapangan Duri memiliki ciri khas yang berbeda. Lapangan ini menggunakan teknologi steam flood. Apa itu?
"Lapangan Duri menggunakan injeksi uap. Karena minyaknya berat, harus dipanaskan supaya bisa mengalir. Panas itu dari injeksi uap," jelas Yanto di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, Kamis (12/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu pun harus dengan teknologi karena sampai ke ujung harus tetap berbentuk uap. Panasnya harus siap," ucapnya.
Di Indonesia, lanjut Yanto, hanya Lapangan Duri yang menggunakan teknologi ini. Bahkan di dunia pun tidak banyak yang memakainya.
"Steam flood di dunia paling besar di sini sama di California (Amerika Serikat). Itu Chevron juga," ujarnya.
Teknologi steam flood, tambah Yanto, mulai diterapkan pada 1985. Teknologi ini diresmikan oleh mantan presiden Soeharto pada 1990.
Menurut Yanto, tingkat keberhasilan teknologi ini luar biasa. Saat akan diterapkan, produksi minyak Lapangan Duri adalah sekitar 50.000 barel/hari.
"Waktu primary, produksi 50.000. Begitu start up 1985, produksinya naik 3 kali lipat," ucapnya.
Dari satu area, demikian Yanto, semakin luas hingga kini menjadi 13. Saat ini, walau sudah menggunakan steam flood, Lapangan Duri tidak luput dari penurunan produksi. Dari puncak produksi 300.000 barel/hari pada era 1990-an, produksi menjadi pada 2014 menjadi sekitar 140.000-150.000 barel/hari.
"Area 13 sekarang masih dalam peak-nya, tapi sudah mulai turun," tutur Yanto.
Lapangan Duri adalah blok minyak terbesar di Indonesia. Produksinya mencapai lebih dari 100.00 barel/hari.
Puncak produksi minyak Lapangan Duri terjadi pada 1994 yaitu mencapai 300.000 barel/hari. Pada 2006, produksi minyak Lapangan Duri menyentuh 2 miliar barel.
(hds/dnl)










































