Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi mengatakan, tidak berminatnya pengusaha swasta membangun SPBG, salah satunya karena harga BBG yang terbilang terlalu murah.
"BBG-nya masih terlalu murah, saat ini BBG masih Rp 3.100/setara liter premium (Lsp). Sementara harga BBM saat ini Rp 6.600/liter-Rp 8.000/liter," ujar Eri kepada detikFinance, Jumat (13/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gas bumi memang murah dan di Indonesia banyak jumlahnya, tapi untuk gas bisa disalurkan ke mobil kan butuh pipa gas, butuh dispenser gas, bayar gaji karyawan dan banyak lagi, dan itu tidak murah. Kalau Anda disuruh investasi besar puluhan miliar, tapi BEP-nya lama, mau nggak? nggak mau kan," ungkapnya.
Makanya kata Eri, investasi SPBG bahkan di DKI Jakarta yang kendaraan bermotornya sangat banyak, masih belum menarik.
"SPBG di DKI Jakarta memang belum menarik, bahkan SPBG milik swasta di Pluit saja sudah tutup sejak lama," ungkapnya.
Ia menambahkan, tidak hanya masalah harga BBG yang masih murah, lokasi SPBG juga menentukan kelangsungan operasional SPBG. Bila tidak diletakkan di lokasi yang ada konsumennya, maka BBG tidak akan laku.
"Berdirinya SPBG harus terpadu dengan konsumennya, kalau investornya bangun SPBU pasti ada konsumennya. Sekarang ini investor mau bangun SPBG tapi belum jelas siapa konsumennya. Misalnya Trans Jakarta atau angkot, tapi ini kan jalurnya terbatas juga. Makanya tidak mudah investasi SPBG ini," tutupnya.
(rrd/ang)











































