"Kita tahu semua, kilang kita usianya sudah tua semua, sehingga terjadi inefisiensi dalam produksi di kilang. Tapi kita tidak serta merta-merta langsung menutup kilang minyak," ujar Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto kepada detikFinance, Selasa (10/3/2015).
Dwi mengatakan, saat ini pihaknya sedang mengkaji pengurangan produksi dari beberapa kilang-kilang minyak yang dikelolanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, setelah produksi beberapa kilang diturunkan, di saat yang bersamaan pengerjaan upgrade teknologi dilakukan. Sehingga dalam waktu 3-4 tahun kemudian, teknologi kilang makin modern dan makin efisien. Sehingga setiap produksi kilang tidak rugi lagi.
"Upgrade teknologi kilang memang butuh waktu, sekitar 3-4 tahun," katanya.
Seperti diketahui, Pertamina saat ini mengelola 6 kilang minyak nasional, mulai dari Kilang Plaju, Kilang Balongan, Kilang Balikpapan, Kilang Kasim, Kilang Dumai dengan kapasitas total mampu mengolah minyak 1,03 juta barel per hari.
Sementara kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari. Produksi kilang minyak Pertamina sendiri masih tidak efisien, karena harganya 104%-110% dari harga patokan minyak di Singapura (MOPS). Artinya harga produksi BBM Pertamina lebih mahal 10% lebih daripada harga BBM impor.
(rrd/dnl)











































