Ketua Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia Bob Kamandanu mengatakan, βanjloknya harga batu bara disebabkan karena banyaknya pasokan. Bila volume produksi batu bara tidak diturunkan, maka harga batu bara akan terus anjlok.
"Harga saya lihat masih flat. Kita berharap ada kenaikan. Kalau semangat pengurangan produksi itu ada, kalau volume sama akan tetap (flat)," kata Bob ditemui di kantor Ditjen Minerba Kementerian ESDM, Jalan Supomo, Tebet, Jakarta, βSelasa (10/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini tetap driver-nya dari Tiongkok. βTiongkok lagi konsolidasi besar-besaran. Kita bisa lihat dua tahun lagi," jelasnya.
Kondisi harga batu bara yang tengah anjlok ini, menurutnya banyak perusahaan batu bara skala kecil yang terpaksa berhenti beroperasi karena tak mampu lagi bersaing.
β"Sudah ada yang kolaps pastinya. Sumatera banyak, Kalimantan banyak. Itu kebanyakan yang kecil-kecil. Kalau kerja yang 1-2 juta ton, kalau diturunkan (volume-nya) habis," katnya.
"Ada 30-40 perusahaan, karena tak mampu lagi di harga yang sekarang, tak ada margin," imbuhnya
Dari data Kementerian ESDM Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk penjualan langsung (spot) yang berlaku tanggal 1 Januari 2015 hingga 31 Januari 2015 pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB vessel) adalah US$ 63,84/Ton.
HBA Januari 2015 itu, turun US$ 0,81 atau setara 1,25%, dibandingkan dengan HBA Desember 2014 sebesar US$ 64,65. Nilai HBA Januari 2015 masih melanjutkan tren penurunan HBA yang terjadi di 2014.
Rata-rata HBA di 2014 adalah US$ 72,62. Bila dibandingkan dengan HBA bulan yang sama di 2014 yaitu sebesar US$ 81,90, maka HBA Januari 2015 ini anjlok hingga US$ 18,06 atau setara 22%.
(zul/hen)











































