Warga Calon Ibu Kota RI di Era Soekarno Sulit Dapat BBM dan Listrik

Warga Calon Ibu Kota RI di Era Soekarno Sulit Dapat BBM dan Listrik

- detikFinance
Senin, 30 Mar 2015 10:51 WIB
Warga Calon Ibu Kota RI di Era Soekarno Sulit Dapat BBM dan Listrik
Palangkaraya - Walau memiliki cadangan dan produksi batu bara cukup besar, warga di Palangkaraya, Kalimantan Tengah sampai saat ini masih kesuitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) dan sering terjadi pemadaman listrik. Padahal daerah ini dulunya akan dijadikan ibu kota menggantikan Jakarta pada era Presiden Soekarno.

Untuk BBM, warga Kalteng lebih memilih membeli secara eceran karena keterbatasan jumlah stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) meskipun harga lebih mahal.

"Saya beli bensin di eceran dulu ya, soalnya susah cari SPBU di sini," sebut salah satu pengemudi, Wawan yang membawa rombongan awak media di Palangka Raya, Kalteng, Senin (30/3/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena susah menemukan SPBU, warga Kalteng kerap memborong BBM dalam jumlah besar ketika melakukan perjalanan jarak jauh. Jerigen besar berisi solar ataupun premium wajib dibawa untuk menemani perjalanan.

"Kalau ke daerah beli bensin di SPBU terus dimasukkan ke jerigen. Kita biasa beli 60 liter untuk persediaan," jelasnya.

Saat ini, harga premium dipatok Rp 7.300 per liter, sedangkan harga eceran di Palangka Raya dijual sebesar Rp 8.500 per liter. Harga ini bisa melompat tinggi bila berpergian menuju daerah pelosok di Kalteng.

"Kalau masuk pelosok sudah mahal. Bisa Rp 9.500 sampai Rp 12.000 per liter," ujarnya.

Dari pantauan detikFinance di sepanjang jalan protokol Kota Palangka Raya, para pengecer bensin premium dan minyak solar sangat mudah ditemukan, sebaliknya keberadaan SPBU yang jarang dijumpai.

Selain BBM, warga Kalteng sering kedatangan tamu tak diharapkan yakni pemadaman listrik bergilir. Pemadaman listrik di Kalteng bisa terjadi setiap 1 minggu sekali. Alasannya, pasokan listrik tidak mampu mencukupi kebutuhan masyarakat saat beban puncak.

Apalagi pasokan energi listrik sebagian besar dipasok dari Provinsi Kalimantan Selatan, sehingga sangat rentan bila Kalsel menghentikan pasokan listrik. Padahal Kalteng memiliki cadangan batubara sangat besar sebagai bahan baku utama Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

"Pasokan sebetulnya cukup, cuma pemakaian saat jam sibuk tinggi. Itu defisit. Sedangkan defisit selama ini nggak ada pembangkit cadangan. Misal ada acara besar-besaran maka, ada daerah yang dikorbankan untuk mati lampu, karena pasokan listrik saat ini hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga," kata Kepala Bappeda Kalteng Herson Aden.

Herson menjelaskan, Pemprov Kalteng telah mendorong pembangunan PLTU di beberapa titik. PLTU sedang dibangun di sekitar pertambangan atau mengadopsi pembangkit di mulut tambang. PLTU ini diharapkan mampu mendukung ketahanan energi Kalteng.

"Kita bangun pembangkit sendiri. Salah satunya PLTU 2X100 mega watt di Pulang Pisau," sebutnya.

(feb/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads