Huadian merupakan BUMN kelistrikan di China. Perannya mirip PLN di Indonesia.
"Perusahaan datang dan menjelaskan profil serta proyeknya yang ada di sini. Bapak Presiden membuka diri untuk berinteraksi," kata Sudirman di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (6/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jokowi, kata Sudirman, meminta Huadian segera masuk ke proyek baru mereka yaitu pembangkit listrik Sumatera Selatan (Sumsel) 8 berkapasitas 2x650 MW. Proyek ini bernilai US$ 2 miliar (Rp 26 triliun).
Namun, tambah Sudirman, Jokowi juga ingin agar Huadian membantu penyelesaian sejumlah proyek pembangkit listrik yang agak terbengkalai. Proyek-proyek tersebut adalah warisan dari program pembangkit listrik 10.000 MW.
"Ada yang belum selesai, seperti di Buleleng (Bali). Jadi sekalian minta tolong dibereskan, sekalian masuk ke proyek baru," kata Sudirman.
Pihak Huadin, menurut Sudirman, berminat juga untuk menyelesaikan proyek-proyek pembangkit yang terbengkalai. Namun mereka juga memperkirakan bisa menyelesaikan proyek pembangkit Sumsel 8 dalam 3 tahun ke depan.
Sofyan Basir menambahkan, Huadin diharapkan bisa mempercepat penyelesaian proyek pembangkit Sumsel 8. Dia mengatakan, sebelumnya proyek tersebut terhambat masalah transmisi.
"Kemarin itu masalahnya di transmisi. Sekarang kami berjanji transmisi akan segera diselesaikan," ujar Sofyan.
Sementara itu, Janto Susanto mengatakan pembangkit listrik Sumsel 8 sebenarnya proyek yang sudah ada sejak 2005. Hanya pembangunannya terbengkalai karena masalah transmisi.
"Tinggal tunggu transmisi dari PLN, baru selesai tahun ini. Jadi akhir tahun ini sudahβ mulai kerja kita," kata Janto.
Pembangkit Sumsel 8 sendiri, lanjut Janto, adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mulut tambang. Fasilitas ini beroperasi di dekat tambang batu bara milik PT Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA).
"Bukit Asam punya batu bara digali, dibakar di sana. Jadi nanti 55% milik China Huadian, 45% Bukit Asam," tutur Janto.
(hds/hen)











































