Menteri ESDM: Cadangan Migas Terus Turun, RI Butuh Investor

Menteri ESDM: Cadangan Migas Terus Turun, RI Butuh Investor

- detikFinance
Kamis, 09 Apr 2015 13:46 WIB
Menteri ESDM: Cadangan Migas Terus Turun, RI Butuh Investor
Jakarta - Cadangan minyak dan gas bumi (migas) Indonesia terus. Bahkan berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), produksi sumur-sumur minyak dalam negeri tiap tahun turun secara alami sebesar 20%. Industri hulu migas Indonesia butuh investor.

"Harus kita sadari, di sektor hulu migas, suasananya saat ini sudah sangat menekan. Cadangan migas turun terus, eksplorasi migas tidak berkembang," ujar Menteri ESDM Sudirman Said ditemui di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2015).

Sudirman mengatakan, dengan kondisi tersebut, Indonesia membutuhkan atau harus bisa menarik investor asing berinvestasi di dalam negeri, untuk aktif melakukan eksplorasi, agar ditemukan cadangan minyak dan gas bumi yang baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena itu kita harus mulai mengundang atau membuat investor itu tertarik untuk investasi di Indonesia, terutama mulai aktif eksplorasi migas," katanya.

Tidak hanya di sektor hulu migas, Sudirman menegaskan, pemerintah harus bisa mengendalikan konsumsi migas nasional yang makin hari makin besar. Karena di sisi hulu, produksi migas justru turun dan ketergantungan negara akan impor migas juga makin besar.

"Kita tidak boleh terlalu fokus pada urusan produksi semata, justru eksplorasi di genjot supaya cadangannya makin meningkat, yang di hilir sudah jelas konsumsi kita makin hari makin besar. Kalau produksinya turun artinya impornya makin hari makin besar. Karena itu di hilir harus ada tata kelola yang kuat, harus ada pengawasan harus mendorong Pertamina lebih kompetitif, membuat sistem impor dan pengadaan lebih transparan, dan sampai bagaimana membuat distribusi makin efisien, membangun infrastruktur, dan segala macam," paparnya.

Apalagi kondisi saat ini, kata Sudirman, harga minyak anjlok signifikan, bila pemerintah tidak memberikan insentif yang menarik bagi investor asing, maka akan membuat Indonesia ditinggal investor.

"Kalau kita tidak memberikan ruang yang cukup menarik bagi investor, ya kita makin ditinggal. Ini antara keseimbangan melayani rakyat dengan cara menarik investor. Saya mengatakan, rakyat akan dapat dilayani dengan baik apabila kita bisa mengelola keberadaan investor. Karena bagaimana pun, industri ini adalah industri global, yang mau tidak mau tergantung pada kehadiran investor migas," tutupnya.

(rrd/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads