Menurut Kementerian ESDM, Premium baru bisa dihapuskan paling lama 2 tahun lagi. Kenapa Indonesia masih harus mempertahankan 'bensin kotor' Premium RON 88?
Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, penghapusan bensin Premium seperti rekomendasi pemerintah dan Tim Reformasi Tata Kelola Migas memang menjadi tantangan bagi Pertamina. Karena kilang-kilang yang dimiliki Pertamina berusia tua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lalu kita mau hilangkan RON 88, maka terpaksa kita tutup semua kilang. Implikasinya kalau kita tutup kilang kita, kita terpaksa impor produk-produk itu yang sudah jadi 100%," imbuh Sofyan.
Di kilang yang sudah tua ini, bensin yang bisa diproduksi hanya bensin RON di bawah 90. Sehingga, Pertamina harus mengimpor bahan bensin RON 95 yang diturunkan lewat percampuran dengan bensin hasil kilang yang RON-nya sekitar 80. Dari percampuran ini dihasilkan bensin RON 88 atau bernama Premium.
Sementara Anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas, Agung Wicaksono mengatakan, tim yang dipimpin oleh Faisal Basri tersebut menginginkan paling lambat 2 tahun bensin RON 88 musnah.
"Sebenarnya yang kami usulkan untuk dihapus itu bukan Premium, karena Premium adalah merek. Namun yang kami usulkan dihapus adalah bensin RON 88," kata Agung.
Menurutnya, setidaknya ada 2 alasan mengapa bensin RON 88 harus hilang. Pertama adalah neraca perdagangan Indonesia harus diperbaiki. Impor BBM yang tinggi, terutama bensin RON 88, harus mulai dikurangi.
"Indonesia defisit minyak sejak 2003, dan 10 tahun kemudian defisit perdagangan BBM dan minyak mentah itu terjadi. Pertumbuhan konsumsi tak bisa dikejar pertumbuhan produksi. Jadi penghapusan RON 88 sangat penting," jelasnya.
Alasan kedua, lanjut Agung, adalah impor bensin RON 88 yang sarat 'permainan'. "Pemburu rente memiliki kedekatan pada pengambil keputusan, itu jadi terdistorsi," tegasnya.
Tim Reformasi sendiri mengusulkan waktu 2 tahun agar Pertamina menghapus RON 88. Waktu 2 tahun ini diputuskan setelah mempertimbangkan beberapa hal.
Pertama adalah menghabiskan impor RON 88 yang telah dilakukan oleh anak usaha Pertamina, Pertamina Energy Services Pte Ltd alias Petral. "Akhir tahun kemarin, Petral melakukan cuci gudang untuk impor 6 bulan ke depan," ujarnya.
Kedua, demikian Agung, adalah mempersiapkan kilang Pertamina agar bisa memproduksi BBM sekelas minimal RON 92 lebih banyak.
"Jadi ada pengalihan kilang dari RON 88 menjadi RON 92. Itu mengapa perlu 2 tahun," ucapnya.
Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan, bensin Pertalite yang akan diluncurkan Mei 2015 belum bisa menggantikan Premium.
"Kita tahu bahwa Pertamina juga mengoperasikan kilang minyak, kilang minyak mengolah minyak dalam negeri, diproses, menghasilkan Premium dan nafta yang RON-nya sekitar 60-70," ujar Dwi.
Dwi mengatakan, Premium saat ini bisa saja langsung dihapuskan dan Pertamina impor BBM seluruhnya dalam bentuk RON 92. Namun Pertamina masih memikirkan nasib kilang minyaknya, dan nasib nafta yang dihasilkan dari pengolahan minyak mentah dalam negeri.
"Kalau nafta yang RON-nya 70 ini diekspor, harganya sangat murah sekali, justru dengan adanya Premium ini, kita impor HOMC di atas RON 92 lalu dicampur ke nafta, malah meningkatkan nilai keekonomian dari nafta yang harganya murah dan kita produksinya banyak," katanya.
Dwi menyadari, suatu saat keberadaan Premium akan hilang. Ini seiring program Pertamina meningkatkan teknologi kilang-kilang minyak dan meningkatkan efisiensi kilang, sehingga nantinya kilang-kilang Pertamina hanya menghasilkan produksi BBM di atas RON 88.
(dnl/hen)











































