Indonesia sampai saat ini masih tercatat sebagai produsen, sekaligus eksportir terbesar batu bara dan gas bumi di dunia. Jumlah ekspor kedua komoditas ini akan berkurang. Kenapa?
Karena Presiden Joko Widodo (Jokowi) membangun sejumlah pembangkit listrik dengan total kapasitas 35.000 megawatt (MW) dalam 5 tahun ke depan. Pembangkit listrik ini memerlukan bahan bakar batu bara dan gas.
"Akan ada keseimbangan yang baru terkait ekspor batu bara dan gas bumi, ketika pembangkit 35.000 MW ini selesai," ujar Menteri ESDM Sudirman Said, di Kantor PLN Yogyakarta, Senin (4/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PLTU 20.000 MW membutuhkan 80-90 juta ton batu bara. Itu masih cukup karena produksi batu bara kita setahun sekitar 400 juta ton. Selama ini, sebagian besar diekspor, namun setelah selesai proyek pembangkit ini, jumlah yang diekspor akan berkurang, karena lebih banyak terserap ke domestik untuk PLTU," ungkap Sudirman.
Selain itu, sekitar 15.000 MW dari 35.000 MW merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG). Bila ini terbangun, akan dibutuhkan bahan bakar gas 1.100 british thermal unit per hari (BBTUD).
Kebutuhan besar ini akan mendorong pembangunan infrastruktur gas bumi, mulai dari produksi hingga pengangkutan ke pembangkit listrik.
"Ini belum termasuk konsumsi gas untuk pembangkit yang sudah beroperasi saat ini 1.250 BBTUD. Nantinya dengan selesainya proyek 35.000 MW yang dimulai hari ini dan diluncurkan Pak Presiden, dan selesai secara bertahap dalam lima tahun ke depan, akan ada keseimbangan baru terkait produksi batu bara dan gas bumi kita, dan dengan sesuai desain besar kita, makin hari alokasi energi primer kita makin untuk domestik," tutup Sudirman.
(rrd/dnl)










































