PT Pertamina (Persero) secara mendadak membatalkan kenaikan harga pertamax, pertamax plus, dan pertamina dex pada Rabu (13/5/2015) yang sebelumnya sudah diumumkan akan dinaikkan hari itu juga.
Pembatalan secara mendadak ini dinilai Ekonom Faisal Basri hanya untuk mengacaukan masyarakat saja. Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang diusulkan untuk segera diganti.
"Wah, saya ini curiga cuma mau bikin rusuh saja. Nggak mungkin ini kebijakannya sekacau ini kalau nggak ada motif nggak benernya. Ini nggak hanya sekali. Saya minta satu saja, Ahmad Bambang itu diganti karena sudah berkali-kali melakukan banyak kesalahan yang fatal. Karena Itu sudah keterlaluan," tegas dia saat diskusi Energi Kita di Restoran Bumbu Desa, Cikini, Jakarta, Minggu (17/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menariknya gara-gara Petral dibubarkan, ini ibarat sarang tawon, kita bakar itu tawonnya rusuh. Ada yang kabur, marah dan lainnya. Saya pernah bilang ke teman-teman istana, di sana ada. Mereka bergerak untuk melakukan itu," katanya.
Dalam kaitannya dengan premium, Faisal menyebutkan, modusnya ini adalah ingin menunjukkan seolah Menteri ESDM Sudirman Said tidak mampu mengurus energi di dalam negeri dan malah menciptakan kekacauan.
"Ini target reshuffle kelihatan banget. Masa coba bisa bayangkan kalau surat edaran itu diberlakukan betul-betul, kalau harga pertamax itu Rp 9.600 bukankah itu Pertamina bunuh diri? Anda lihat di Jalan Gondangdia, Shell Rp 8.950, pindah semua ke Shell karena bedanya Rp 2.200. Itu kan bodoh. Saya rasa orang bodoh pun nggak akan sampai sebodoh itu. Orang jahat bisa begitu. Jadi kelihatan banget motifnya apa," terang dia.
Di tempat yang sama, Sudirman menambahkan, untuk memburu para mafia migas bukanlah tugas Kementerian ESDM tapi pihak yang berwenang.
"Saya bukan polisi, bukan KPK, jadi tidak punya target untuk memburu rente," kata Sudirman.
(drk/ang)











































