"Bangun 35.000 MW, kalau saya sih mimpi deh. Kalau membuat 35.000 MW barangkali bisa jadi pembangkitnya berdiri. Tapi listrik itu kan kita juga bicara jaringan dan transmisi. Untuk menyalurkan 35.000 MW itu kan harus membangun 42.000 km transmisi. Itu hitungan realistisnya," kata mantan Ketua Tim Reformasi dan Tata Kelola Migas, Faisal Basri ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2015).
Selain itu, hitung-hitungan Faisal mengatakan, sejak zaman kolonial Belanda sampai saat ini, kapasitas listrik Indonesia hanya 43.000-45.000 MW. Kemudian saat ini dalam 5 tahun, pemerintah Jokowi mau membangun 35.000 MW.
"Tiba-tiba dalam 5 tahun ingin dibuat hampir dua kali lipat. Kan pegawai PLN-nya harus ditambah. Nggak bisa dicetak dalam waktu sekejap. Seluruh karyawan disuruh bangun seluruh Indonesia juga nggak bisa. Nanti ada pegawai dari luar negeri juga jadi repot. Kalau saya pribadi sangat mendukung, tapi kalau ditanya realistis, nggak realistis. Sama nggak realistisnya kita ingin harga beras murah tapi tidak impor," papar Faisal.
Seperti diketahui, proyek 35.000 MW memakan Rp 1.100 triliun. Dari jumlah ini, mengambil mengambil porsi 10.000 MW, sementara sisanya ditawarkan ke pihak swasta.
(Wahyu Daniel/Rista Rama Dhany)










































