Vale: Harga Nikel Paling Parah Tahun Ini

Vale: Harga Nikel Paling Parah Tahun Ini

Ayunda W Savitri - detikFinance
Selasa, 26 Mei 2015 19:00 WIB
Vale: Harga Nikel Paling Parah Tahun Ini
Sorowako - Turunnya harga komoditas pertambangan tidak hanya dialami batu bara, tapi hal yang sama juga terjadi pada harga nikel. Di mana harga nikel tahun ini 'terjun bebas' hingga mencapai level US$ 12.350 per ton.

"Sekarang sekitar US$ 12.350. Kita punya budget US$ 21.000 tahun ini, jadi asumsi kita segitu per tonnya tapi nggak tahunya turun US$ 12 ribuan," ujar Senior General Manager Mines and Exploration Basri Kambatu dalam kegiatan media visit di kawasan pertambangan nikel PT Vale Indonesia Tbk, Kota Sorowako, Sulawesi Selatan, Selasa (26/5/2015).

"Dari 2013 sudah turun harganya. Lebih parah tahun ini, sudah menyentuh angka US$ 12 ribu per hari ini soalnya. Tahun 2013 masih sentuh angka US$ 13 ribu-US$ 14 ribu," tegas dia.

Meski demikian, Basri mengaku hal itu tidak menyurutkan kuantitas produksi nikel. Sebab, seluruh hasil produksi tersebut langsung diekspor ke perusahaan milik Jepang, Sumitomo.

"Untungnya di Vale walaupun harga turun karena sudah punya kontrak dengan Sumitomo jadi tidak berpengaruh. Harganya ikuti harga pasar dunia LME (London Metal Exchange)," terangnya.

"Jumlah produk tidak berubah. Berapa pun kita produk itu akan di-supply (ke Jepang)," lanjut Basri.

Diakuinya, harga nikel dunia yang menurun jelas berpengaruh terhadap laba perusahaan. Berapa persisnya, Basri mengaku tidak mengetahui.

Dia hanya berharap ke depannya harga minyak dunia tidak naik. Sebab, minyak merupakan bahan baku terpenting dalam memproses pemurnian nikel.

"Sebenarnya kita ingin minyak jangan naik, karena kita pakai minyak besar untuk operasionalnya. Kalau harga minyak tidak turun, komoditi harga jual nikel turun itu terasa sekali. Kalau sekarang harga nikel turun minyak juga turun," pungkasnya.

Basri menyebut, Vale Indonesia tahun ini menargetkan ekspor nikel sebanyak 82.500 ton ke Jepang. Jumlah ini meningkat dibanding di 2013 lalu yang hanya mencapai sekitar 79 ribu ton.

(Ayunda W Savitri/Rista Rama Dhany)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads