Penurunan produksi ini terjadi di tengah anjloknya harga bahan tambang tersebut.
"Pembatasan produksi ke depan memang akan ada. Tapi 2015 tetap pada target (produksi) 425 juta ton, sampai 2019 akan kami turunkan sampai 400 juta ton," jelas Dirjen Mineral dan Batu Bara, Kementerian ESDM, Bambang Gatot di sela acara 21st Coaltrans Asia, atau pertemuan industri batubara terbesar dunia yang berlangsung di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali, Senin (8/6/2015).
Bambang mengatakan, pemerintah saat ini tengah mendorong hilirisasi tambang batu bara. Seperti di Kalimantan Timur, di mana sudah berjalan industri hilir berupa pembuatan briket baru bara untuk digunakan industri kecil dan menengah.
(dnl/rrd)











































