PLTP yang memanfaatkan uap menjadi listrik di Indonesia saat ini masih minim sekitar 5% dari total potensi panas bumi yang dimiliki sekitar 28.000 MW.
Hal itu diungkapkan oleh Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto, pada saat peresmian PLTP Kamojang Unit 5 yang berkapasitas 1 x 35 MW. Peresmian proyek tersebut dilakukan oleh Presiden RI didampingi oleh jajaran menteri Kabinet Kerja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dwi mengatakan, Pertamina komit mempercepat pemanfaatan panas bumi dan konsisten menjadi yang terdepan dalam melaksanakan pengembangan panas bumi di Indonesia. Bahkan, di saat investor lain pun tidak banyak tergerak karena berbagai hambatan yang dialami, Pertamina terus berinvestasi di sektor panas bumi salah satunya PLTP Kamojang 5 yang diresmikan oleh Presiden Jokowi hari ini.
"Lalu kita juga membangun PLTP Karaha, Lumut Balai, Sibayak dan banyak lagi, total tambahan kapasitas listrik mencapai 505 MW hingga 2019 dengan investasi sekitar US$ 2,5 miliar," ungkap Dwi.
Proyek PLTP yang dibangun akan mulai beroperasi komersial secara bertahap mulai 2015 hingga 2019.
Sebagai wujud komitmen Pertamina terhadap optimalisasi local content, dan memperkuat sinergi di antara perusahaan milik negara, hampir seluruh proyek panas bumi yang dikelola oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dilaksanakan oleh PT Rekayasa Industri. Proyek-proyek tersebut diharapkan dapat menyerap tenaga kerja sekitar 7 ribu orang selama proyek berlangsung.
(dnl/rrd)











































