Kejar Produksi 825.000 Barel/Hari, Sumur Minyak Ini Jadi Tumpuan RI

Kejar Produksi 825.000 Barel/Hari, Sumur Minyak Ini Jadi Tumpuan RI

Rista Rama Dhany - detikFinance
Kamis, 09 Jul 2015 08:25 WIB
Kejar Produksi 825.000 Barel/Hari, Sumur Minyak Ini Jadi Tumpuan RI
Jakarta - Produksi minyak Indonesia masih di bawah target yang ditentukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015. Sampai semester I-2015 produksi rata-rata minyak nasional hanya 763.600 barel per hari, atau 7,4% di bawah target 825.000 barel per hari.

Tidak hanya minyak, produksi gas bumi juga masih di bawah target yakni hanya 6.587 juta kaki kubik per hari (mmscfd) atau 4% di bawah target sebanyak 7.079 mmscfd.

"Kami harus kerja keras lagi untuk mengejar target tersebut," kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi, ditemui di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (8/7/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amien mengatakan, salah satu fokusnya adalah menyelesaikan proyek ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu. Dari lapangan ini produksi minyak nasional bisa dapat tambahan sebanyak 205.000 barel per hari.

"Peningkatan produksi Lapangan Banyu Urip menjadi tumpuan pencapaian produksi minyak bumi nasional. Pada Januari, rata-rata produksi lapangan ini di angka 40.179 barel per hari. Per Juni produksi berada di angka 83.534 barel per hari. Mulai Agustus produksi meningkat menjadi 149.000 barel per hari, dan terus meningkat hingga 205.000 barel per hari pada Desember 2015," ungkapnya.

Pihaknya kata Amien, sangat memantau proyek dari Lapangan Banyu Urip, jangan sampai ada satu hambatan, bahkan bila ada hambatan bisa segera diselesaikan dengan cepat. Karena lapangan migas ini vital bagi tercapainya target produksi minyak tahun ini.

"Kami memonitor secara dekat, mengidentifikasi sedini mungkin seandainya ada risiko yang bisa mengakibatkan tertundanya starting produksi. Ia mencontohkan, beberapa waktu lalu ada hambatan dari pengerjaan pengelasan pipa oleh kontraktor yang harus diulang kembali. Ini terjadi karena kekurangan tenaga pengelas yang ahli dan tersertifikasi, jadi kita harus cepat antisipasi masalah-masalah seperti ini," tutupnya.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads