Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan PLN, Selasa (28/7/2015), ada beberapa faktor yang membuat PLN mencatat rugi di paruh pertama tahun ini, mulai dari pendapatan yang turun hingga kerugian kurs akibat loyonya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Penjualan tenaga listrik perusahaan naik dari Rp 85,7 triliun di akhir Juni 2014 menjadi Rp 101,2 triliun tahun ini. Namun subsidi dari pemerintah turun menjadi hanya Rp 27,4 triliun dari sebelumnya Rp 57,7 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beban usaha PLN di paruh pertama 2015 tercatat turun menjadi Rp 107,7 triliun, lebih rendah dari sebelumnya Rp 118 triliun. Sehingga PLN mencatat laba usaha Rp 24,7 triliun di akhir Juni 2015, dari sebelumnya Rp 28,8 triliun.
Laba usaha tersebut harus terpangkas oleh rugi selisih kurs sebesar Rp 16,9 triliun. Sementara tahun lalu PLN masih meraup laba kurs sebesar Rp 4,4 triliun.
Setelah dipangkas rugi selisih kurs, PLN masih mencatat laba sebelum beban keuangan Rp 7,4 triliun, bandingkan dengan posisi sebelumnya Rp 34,6 triliun.
PLN akhirnya mencatat rugi di semester I-2015 setelah dipangkas beban keuangan dan pajak. Rugi per saham dasar PLN tercatat Rp 228 per lembar dari sebelumnya laba per saham Rp 313 per lembar.
(ang/dnl)











































