Wakil Ketua Umum Asosisasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia mengungkapkan, sudah ada sekitar 60% perusahaan batu bara dalam negeri yang sudah menghentikan produksinya saat ini.
"Sudah banyak yang minus, bahkan lebih dari setengah tambang (batu bara) yang sudah minus (ongkos produksi lebih besar), sudah negatif," kata Hendra kepada detikFinance, ditemui di Gedung Dirjen Minerba Kementrian ESDM, Jalan Dr Soepomo, Jakarta Selatan, Rabu (29/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hendra menuturkan, meski berhenti produksi, tak semua perusahaan-perusahaan tambang batu bara tersebut gulung tikar alias bangkrut.
"Dalam arti bukan tutup semua, tapi negatif marginnya, produksi rendah, ongkos produksi besar, jadi minuslah, ongkos lebih besar tapi margin makin tipis," jelasnya.
Ia mengaku, tak tahu persis jumlah perusahaan tambang yang kolaps karena merosotnya harga batu bara seperti sekarang ini.
"Jumlahnya belum tahu kita. Banyaklah pasti, pasti banyak, banyaknya berapa saya nggak tahu persis," kata Hendra.
Sebagai informasi, mengutip data Kementerian ESDM, harga batu bara dengan kandungan kalori 7.000 saat ini dihargai pada kisaran US$ 69 per ton. Harga komoditas batu bara terus menurun sejak Maret 2014, di mana komoditas ini masih dihargai US$ 80 per ton saat itu. Dan kemudian terus merosot hingga US$ 70,29 pada Agustus 2014.
(rrd/dnl)











































