"Kita mengkaji terus, tapi tidak pernah dijalankan. Belum tentu kajinya bagus betul," kata JK saat berkunjung ke Kantor BPPT, Jakarta, Senin (10/8/2015).
Kritikan tak berhenti disitu. Ia menilai para peneliti Indonesia yang bernaung di bawah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) justru banyak berkantor di pusat kota Jakarta, Jalan MH. Thamrin. Lokasi para peneliti dinilai jauh dari kawasan industri yang memerlukan hasil penelitian yang aplikatif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria asli Makassar ini, meminta peneliti Indonesia bisa belajar dari Singapura dan Korea Selatan. Kedua negara tersebut memiliki keterbatasan sumber daya alam namun mampu menjelma sebagai negara maju, karena berhasil menerapkan hasil penelitian dan ilmu pengetahuan menjadi roda penggerak kemajuan negara.
"Singapura hanya punya tanah tandus, Tapi dia gunakan teknologinya dengan benar. Cita-cita Pak Habibie, Pak Harto dulu pasti begitu. Tentu sekiranya pengkajian yang benar mungkin saja sudah ada ratusan paten yang diperoleh. Mungkin Anda sudah dapat Nobel, tapi masih jauh perjalanan kita," ujarnya.
Di tempat yang sama, Menteri ESDM Sudirman Said menuturkan, pihaknya akan memanfaatkan kemampuan para insinyur atau peneliti dari BPPT untuk melakukan persiapan atau kajian proyek energi. Langkah ini sejalan untuk mempercepat persiapan proyek energi seperti listrik, gas dan energi baru terbarukan. Langkah ESDM juga mengikuti arahan Wapres JK untuk memberdayakan insinyur dan peneliti lokal.
"Project selama ini terlambat karena proses engineering dan perencanaan. Pak JK bilang, ada BPPT kenapa nggak diberdayakan. Fokusnya bisa ke infrastruktur sampai energi baru terbarukan. Kerjasama dengan BPPT ini untuk proyek tahun 2016, namun perencanaan dilakukan sebelum Oktober 2015. Kerjasama ini fokus sampai detail engineering design (DED)," kata Sudirman.
(feb/rrd)











































