Gubernur BI dan 3 Menteri Rapat Soal Kedaulatan Energi di Balikpapan

Gubernur BI dan 3 Menteri Rapat Soal Kedaulatan Energi di Balikpapan

Dana Aditiasari - detikFinance
Selasa, 11 Agu 2015 15:18 WIB
Gubernur BI dan 3 Menteri Rapat Soal Kedaulatan Energi di Balikpapan
Balikpapan - Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo hari ini menggelar pertemuan dengan sejumlah Pejabat Tinggi Negara, Pemerintah Daerah dan pelaku usaha di Grand Senyiur Balikpapan.

Hadir dalam pertemuan ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Sudirman Said, dan Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir.

Dari sisi Pemerintah Daerah, hadir diantaranya Gubernur dan Bupati di seluruh Pulau Kalimantan. Sementara dari sisi Bank Indonesia akan turut mendampingi Agus adalah seluruh jajaran Deputi Gubernur BI.β€Ž
β€Ž
Pertemuan yang berlangsung tertutup ini membahas soal percepatan penyediaan infrastruktur energi di kota kaya sumber daya alam tersebut.
β€Ž
"Rapat koordinasi yang berlangsung 4 jam tadi membahas berbagai permasalahan dan tantangan serta rekomendasi dalam mewujudkan sinergi kebijakan makro ekonomi, sektoral, dan strategi pembiayaan infrastruktur energi," ujar Agus usai menggelar pertemuan tersebut, Balikpapan, Selasa (11/8/2015).β€Ž

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertemuan ini menghasilkan kesimpulan bahwa perekonomian Kalimantan Timur dan Kalimantan secara umum harus bergeser dari yang semula bersandar pada penjualan komoditas sumber daya alam mentah ke perekonomian yang berbasis industri hilir.

Artinya, Kalimantan tidak lagi mengandalkan penjualan barang tambang mineral mentah, tetapi bisa beralih ke komoditas yang sudah diolah dan memiliki nilai tambah.

"Kalimantan memiliki potensi besar untuk melaksanakan hilirisasi tersebut, sejalan dengan sumber daya alam yang dimilikinya, antara lain, minyak, gas, mineral dan batu bara,"β€Ž tutur dia.

Agus menilai, Kalimantan Timur khususnya pernah berhasil mengalihkan penjualan kayu mentah menjadi penjualan produk olahan kayu yang berharga lebih mahal. Pola ini menurutnya bisa diterapkan juga pada produk pertambangan, mineral, batubara, minyak dan gas.

"Caranya dengan membangun kilang, pemurnian atau smelter, dan pengolahan sumber daya alam lain. Sehingga produk yang dihasilkan lebih berdaya saing dan tidak rentan terguncang oleh pelemahan nilai jual secara global," tutur dia.

(dna/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads